Sabtu, 12 Mei 2012

KERAJAAN/KESULTANAN BANGGAI SULAWESI TENGAH


KERAJAAN ISLAM DI BANGGAI PROPINSI SULAWESI TENGAH 
*Sofyan Madina (Staf Pengajar/Peneliti STAIN Datokarama Palu)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAGIAN I
KONDISI  WILAYAH KERAJAAN BANGGAI
A.      Identifikasi
Kehidupan sosial budaya adalah kehidupan sosial budaya suku bangsa yang telah mendiami pulau-pulau yang menjadi bagian dari kerajaan Banggai sejak zaman dahulukala + abd ke VIII M. Yang kini telah berubah menjadi Kabupaten Banggai kepulauan dengan penduduk sebanyak 171.685 jiwa mendiami 19 kecamatan. Jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 1
Jumlah Penduduk Banggai Kepulauan
Hasil Sensus Penduduk tahun 2010
Kecamatan
Laki
Perempuan
Total
Labobo
2.686
2.657
5.343
Bokan Kepulauan
5.835
5.727
11.561
Bangkurung
4.131
4.065
8.196
Banggai
10.188
9.831
20.089
Banggai Utara
3.053
2.959
6.012
Banggai Tengah
3.157
3.212
6.369
Banggai Selatan
2.450
2.358
4.808
Totikum
5.057
4.810
9.867
Totikum Selatan
4.037
3.996
8.033
Tinangkung
6.684
6.588
13.272
Tinangkung Selatan
3.678
3.519
7.197
Tinangkung Utara
3.874
3.793
7.667
Liang
4.427
4.344
8.771
Peling Tengah
4.661
4.579
9.240
Bulagi
4.827
4.709
9.536
Bulagi Selatan
4.955
4.716
9.671
Bulagi Utara
4.567
4.321
8.888
Buko
4.688
4.665
9.353
Buko Selatan
3.954
3.928
7.882
Banggai Kepulauan
86.909
84.776
171.685
Sumber data: Kantor BPPS  Kabupaten Banggai Kepulauan.


 
Kabupaten Banggai Kepulauan yang sebelumnya kabupaten Banggai dikenal pada masa lalu dengan kerajaan Banggai, memiliki tiga suku terbesar yakni: Suku Seasea yang mendiami Banggai Kepulauan (Pulau Peling, Banggai, Labobo dan Bangkurung) menggunakan bahasa Banggai aqi’/aqi/ai; Suku Loinang kahumamaon mendiami Banggai Daratan bagian Barat dan menggunakan bahasa Saluan Madi’ yang bermakna tidak; kemudian suku Balantak/Kosian mendiami Banggai Daratan sebelah Timur menggunakan bahasa Balantak Sian yang juga bermakna tidak.
Suku bangsa lain yang kemudian mendiami Kabupaten Banggai dan Banggai kepulauan adalah; Jawa, Bali, Gorontalo, Menado, Batak, Buton mendiami wilayah yang ada di Banggai Daratan, sedangkan Banggai Kepulauan didiami suku suku bangsa lain ; Bajo dan Buton
Fenomena pertambahan penduduk yang ada di Banggai Daratan dan Banggai kepulauan yakni daerah yang pernah menjadi wilayah kekuasaan raja Banggai adalah faktor kalahiran (natalis), kematian ( mortality) dan migasi (migration), atau faktor lain seperti yang tampak sekarang faktor yang menonjol adalah terjadinya perpindahan penduduk dari daerah sekitar kenuju ke kabupaten Banggai kepulauan karena terbukanya lapangan pekerjaan sektor informal dan non formal sebagai dampak dari adanya proses pembangunan infrastruktur jalan, kantor pemerintahan, perumahan dan kawasan industri; demikian pula meningkatnya komoditi pertanian dan perikanan baik itu rumput laut, ikan, mutiara, serta sektor lainnya berupa perdagangan dan jasa. 
 Pada masa kerajaan Banggai faktor migrasi lebih banyak diakibatkan karena adanya tekanan dan ketakutan dari penguasa (raja), atau karena serangan/penaklukan yang dilakukan kerajaan lain, dari pada sektor-sektor kehidupan baik itu pertanian, perikanan atau sektor lainnya.

B.       Bahasa dan dialek
Orang Banggai menggunakan tiga bahasa ibu atau bahasa turun temurun yang hingga kini masih terpakai dalam pergaulan sehari harik-hari, walaupun ada yang sudah mulai tercampur dengan bahasa lainnya.  Di Banggai Kepulauan hampir 95 % penduduk menggunakan bahwa aqi’ dan aqi. Bahasa Banggai Aqi’ digunakan oleh masyarakat yang ada di Pulau Peling Barat Kecamatan Peling Tengah, Bulagi, Bulagi Selatan, Bulagi Utara, Buko, dan Buko Selatan, dalam pelafalannya antara aqi’ dan aqi sedikit terdengar berbeda karena pengguna bahasa a’i  menekan suara ditenggorokan sementara bahasa Banggai aqi pelafalannya tidak menekan ditenggorokan dalam membunyikan kata.
Bahasa Banggai ai’ hanya dapat ditemukan pada suku Seasea yang berada di di dataran tinggi Pulau Peling antara kecamatan Peling Tengah, Bulagi dan Buko. Bahasa a’i yang masih digunakan oleh suku Seasea oleh masyarakat Banggai dianggap bahasa yang asli karena masih terpelihara dari pengaruh bahasa luas sebab mereka menutup diri tidak mau bercampur dengan masyarakat yang tinggal ditepi pantai, dan hingga kini mereka terus memelihara adat istiadat mereka seperti halnya di daerha lain; suku kajang di Makassar, suku Badui dalam di Banten, suku sasak di Mataram dan beberapa suku lain yang ada di pedalaman Papua.
Bahasa orang Seasea merupakan salah satu bahasa Banggai yang mempunyai konstruksi genitive bertiga ganda. Salah satu contoh kata aqi yang berarti tidak yang berbeda dengan bahasa Balantak yang mengatakan sian dan Saluan menyebut madi untuk kata yang bermakna sama. Para pengucap aki di masyarakat Banggai juga terbagi dalam dua bagian. Satu bagian di wilayah Timur dan satu kelompok komunitas di wilayah Barat.
Di Pulau Peling, semakin mengarah ke wilayah barat, nampaknya memiliki perbedaan dialektis dari pengunaan kata di banding dengan para pengguna kata aqi di wilayah timur. Di mana komunitas di wilayah barat, khususnya di Seasea menghilangkan huruf huruf K dan G di tengah kata dengan mengantinya dengan hamzah. Sehingga kata aki menjadi a’i.  Dialek Seasea yang khas lainnya adalah di setiap kata yang mengandung huruf  R dan diganti dengan huruf L. Sehingga, dalam berbahasa Seasea terdengar cadel.
Ada kemungkinan, perbedaan dialek ini terjadi karena kedua kelompok komunitas ini terpisah dari sisi wilayah dan aksebilitas. Satu kelompok berdiam di desa dan satu kelompok masih berdiam di hutan. Kelompok komunitas yang ada di desa Osan bagai n luar orang Seasesa memiliki akses untuk berhubungan dengan dunia luar sehingga memiliki system transformasi bahasa dan social budaya yang cepat berubah. Sedang komunitas yang masih tinggal di hutan masih terisolasi. Keterisolasian ini kemudian menciptakan sisi positif di mana bahasa asli orang Seasea yang bermukim di hutan tidak mudah dipengaruhi oleh bahasa dan dialek lain. Terutama pengaruh bahasa Indonesia yang umumnya menjadi bahasa sehari hari mayoritas masyarakat yang ada di Pulau Peling.
Terkait soal itu, Komunitas Seasea dalam meneruskan sejarah dan budayanya, termasuk dalam melestarikan bahasa lokal hanya bergantung pada budaya tutur. Komunitas Seasea tidak mengenal proses pendokumentasian dalam bentuk tulis, hanya lisan dari generasi ke generasi. Di komunitas lain di Indonesia, semisal Kertagama di Jawa dan Lagaligo dan aksara Lontara milik Bugis Makassar, terbukti mampu melestarikan budaya dan bahasa setempat sampai saat ini. Adapun Seasea hanya mengenal pendokumentasian bahasa asli hanya dengan teks berupa tuturan, nyanyian, tanda dan symbol.
Secara umum tulisan atau aksara suku Banggai apakah itu di Banggai Daratan dengan suku Loinang Kahumamaon dan Balantak kosian, maupun di Banggai Kepulauan dengan suku Banggai Seasea, sampai saat ini belum ditemukan wujudnya atau kongkritnya, meskipun sebagian masyarakat menyatakan ada aksara mereka. Pada masa lampau mereka lebih banyak menggunakan bahasa tutur (lisan) sangat jarang dengan bahasa tulisan. Bahasa tulisan peninggalan lama hanya dapat ditemukan menggunakan semacam tulisan Arab, seperti terlihat pada tulisan pada batu nisan di desa Lolantang,  atau tulisan pada dinding pembatas kuburan juga di desa Lolantang.
Naskah yang dianggap kuno adalah naskah yang mereka namakan dengan peta alam yang diwariskan oleh Sayyid Idrus keturunan terakhir dari keturunan Arab yang menjadi penyiar agama Islam di Pulau Peling, naskah lainnya juga hanya berupa lembaran alquran yang disimpan di kediaman Yusuf Basan hukum tua kerajaan Banggai sekarang yang kata beliau digunakan oleh keluarga raja-raja untuk mengaji. Oleh karena itu sementara dapat dikatakan bahwa kerajaan Banggai tidak memiliki aksara tersendiri dalam berkomunikasi dan mendokumentasikan sesuatu. Masyarakatnya lebih berkomunikasi melalui bahasa lisan atau bahasa isyarat. Bahasa isyarat ada dua, yakni isyarat yang langsung disampaikan melalui bahasa tubuh dan isyarat yang diberikan melalui tanda-tanda tertentu menggunakan benda-benda alam, seperti pohon yang sudah ada pemiliknya disisipkan batang kayu kecil yang diruncingkan menandakan ada pemiliknya, atau zaman dahulu kalau ada wanita yang sudah diminang oleh keluarga penguasa, maka di anak tangganya dililitkan kain atau kulit batang pohon tertentu, demikian pula apabila keluarga itu memiliki anak gadis belia yang belum kawin diberikan tanda tertentu seperti; menggantung benda-benda berupa buah-buahan pada tempat tinggalnya, atau kalau ada musyawarah lipu’ dilakukan bunyi-bunyian terbuat dari bambu atau meniupkan but (terompet  terbuat dari kerang besar yang dibuat lubang bagian belakang); Bahkan dalam hal penyambutan terhadap tetamu yang datang, sambutanya bergembira menerima atau bergembira karena akan menghabisi tetamu yang datang). Kalau gembira menerima dilakukan dengan menancapkan gagang teendek (tombak) ke tanah dan runcingnya menghadap ke udara, sedangkan gembira karena yang dicari untuk dibunuh sudah datang sendirinya adalah menancapkan runcing teendek (tombak) ke tanah sampir mengunyah piang dan siri sampai merah.

C.      Keadaan Masyarakat
Masyarakat yang ada di Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan yang dahulu kala menjadi wilayah Kerajaan Banggai jelas berbeda, baik pada zaman kerajaan sampai sekarang memiliki beberapa perbedaan sedikit, namun dapar di atasi oleh masyarakat sendiri dan tidak pernah menimbulkan konflik yang kemudian berakhir pada timbulnya korban.
Masyarakat yang ada di Kabupaten Banggai pada zaman kerajaan Banggai hanya dihuni oleh dua suku besar yakni suku Loinang (Saluan) dan Kosian (Balantak). Suku Loinang tinggal di sebelah Barat dan suku kosian(Balantak) di sebelah Timur. Sebelah barat dibawa kekuataan kerajaan Loinang Barat, disebelah Timur kekuasaan Loinang Timur, mereka pada umumnya  hidup berkebun kelapa, padi dan umbi-umbian, secara struktur masyarakatnya sangat sederhana, hanya terdiri dari Tonggol atau kepala suku dan rakyat.
Di Banggai Kepulauan, keadaan masyarakatnya hampir sama saja dengan apa yang ada di Banggai daratan, hanya saja mata pencaharian dan makanan utama mereka berbeda karena mereka yang ada di Banggai Kepulauan menjadikan makanan utama mereka adalah ubi (talas) yang konon hanya hidup disektarnya. Masyarakat Banggai, terdiri dari pemegang kekuasaan pemerintahan, dan masyarakat biasa.
Masyarakat yang berasal dari keturunan bangsawan  adalah keturunan daran Banginsah dan Keturunan darah Babato. Keturunan darah Banginsa berhakmenduduki jabatan Raja dan jabatan lain seperti Kale, Komisi Sangkap (Mayor Ngopa, Kapita Lau, Jogugu dan Hukum Tua), Mian Tuu dan Jimalaha; sedangkan keturunan darah Babato hanya pada jabatan Jogugu, hukum tua, mian tuu dan Jimalaha. Jabatan-jabatan tersebut  dewan yang membantu Tomundo dan menyelenggarakan amanat kerajaan sesuai bidangnya yaitu; Mayor Ngopa: Raja Muda, Kapita lau: Panglima Angkatan Perang, Jogugu: Menteri dalam negeri, Hukum Tua: Pengadilan, Kale: urusan Agama, Mia Tuu’: Staf Ahli dan Jimala: Asistem pemerintahan. Pemilihan orang-orang yang menempati posisi jabatan tersebut dipoilih secara musyawarah, dan mufakat, oleh Basalo Sangkap, namun kegiatan ini telah berakhir sejak tahun 1939 beriring meninggalnya Raja banggai ke 39 Awaluddin. 
Kepemimpinan kerajaan yang dikembangkan adalah kolektif kolegial, artinya  walaupun masing-masing memiliki wewenag yang diberikan keadanya, namun dalam prakteknya dilakukan dan diputuskan bersama, serta dijalankan bersama dengan penuh rasa tanggung jawab. Kepemimpinan kolegial kolektif ini akan terasa sekali pada saat berhadapan dengan masalah yang krusial seperti pemilihan pimpinan atau raja Banggai, biasanya yang menentukan adalah para basalo, bukan rajaitu sendiri menunjuk siapa penggantinya. Oleh karena itu dalam sistem kemasyarakatan, maka kerajaan banggai sejak zaman dahulu kala telah mendahulukan kepemimpinan kolektif kolegial dan demokratis, dan itu pula yang dikembangkan oleh masyarakat dalam hidup bermasyarakat.

D.      Bentuk pemukiman
Perkampungan yang ada di Kerajaan Banggai masa lalu merupakan kesatuan dari kampung lainnya yang pada zaman dahulu kala dihuni oleh nenek moyangnya, sebab kalau ada satu anggota keluarga yang meninggal di kampung itu maka serentak orang yang ada memindahkan ke tempat lain yang tidak berjauhan karena mereka beranggapan bahwa tempat itu sudah tidak diridhai oleh yang maha kuasa untuk ditempati, dan kalau terus ditempati akan membawa malapetaka bagi semua orang.
Bentuk perkampungan biasanya tidak berderet, melainkan berkelompok pada satu tempat dan depannya berhadap-hadapan satu sama lain, mulai dari tiga sampai lima rumah, sampai pada sepuluh rumah dan pada kelompok besar rumah-rumah yang berkelompok ada satu rumah besar dan panjang. Rumah yang biasa ditemukan pada kelompok hanja tiga atau lima rumah biasanya dihuni oleh keluarga atau orang-orang yang menjadi pelindung tempat itu, mereka adalah orang-orang yang terdepan dan memiliki kelebihan khusus dalam halbela diri dan ilmu-ilmu lainnya, sedangkan kelompok rumah-rumah yang banyak adalah kelompok masyarakat dan ditengah-tengah ada rumah besar, biasanya itulah rumah yang ditempati oleh Tonggol atau pimpinan kampung. Jarak antara rumah kelompok pertama yang hanya terdiri dari tiga sampai lima rumah biasanya setengah kilometer sampai satu kilometer dengan rumah-rumah kelompok besar.
Dalam perkembangan selanjutnya rumah-rumah kemudian bergeser tempat berderet-deret dan menjadikan jalan ditengah-tengahnya dan menempatkan fasilitas peribadatan (mesjid) diujung perkampungan, dan pemukiman demikian sebagian besar berada di tepi sungai, atau ditepi pantai. Pemukiman masyarakat tepi pantai adalah pemukiman masyarakat yang sudah maju dan telah menerima berbagai perubahan dan mengikuti perkembangan, sedangkan pemukiman masyarakat yang masih terpencil adalah pemukiman yang masih belum sepenuhnya mengikuti perubahan yang terjadi  bahkan pemukiman untuk masyarakat pedalaman lebih terpencil lagi yakni pemukiman suku-suku yang dianggap terasing dan mengasingkan diri, sulit untuk dijangkau, mereka benar-benar masih hidup seperti zaman nenek moyang dahulu, walaupun telah ada satu atau dua orang yang berusaha mendekat dengan penduduk yang sudah berkembang peradabannya.

E.       Sistem Kekerabatan
Kawin mawin merupakan salah satu sarana pembentuk sistem kekerabatan pada satu komunitas masyarakat; dalam perkawinan yang dimulai dari proses pencarian jodoh, pada masyarakat Banggai zaman dahulu berlangsung demokratis, dan mereka tidak mengenal kata percintaan atau pertunangan seperti pada masyarakat Banggai sekarang ini.
Prosesi pemilihan jodoh pada masyarakat dahulu dipelopori oleh Tonggol atau Tomundo, pada saat setiap musin panen tiba, proses awalnya adalah penyampaian bahwa prosesi panen akan dilangsungkan dalam satu hari serentak, dan dilakukan berkelompok untuk memudahkan proses penen. Pada malam hari sebelum panen dilaksanakan, semua gadis dikumpulkan di rumah Tonggol, demikian pula semua pemuda juga demikian, tempat kumpul mereka terpisah, pihak gadis-gadis disatu tempat bagian dalam rumah Tonggo atau Tomundo, sedangkan pemuda menempati bagian depan, setelah prosesi pemeriksaan terhadap gadis-gadis akan kesiapan mereka untuk berumah tangga, maka mereka di ajak melakukan pertemuan massal dan duduk berhadap-hadapan ditengahi oleh orang tua dan tokoh-tokoh adat, setelah itu, kemudian bubar, gadis-gadis mesuk kembali ke ruang tengah tempat mereka menginap dan tidur menutupi seluruh tubuh dengan sejenis kain yang ditenun panjang atau biasa disebut alumbu dengan menyembulkan ibu jari kaki.
Menjelang pagi hari dibawa pengawasan Tonggol dan orang tua gadis, pemuda-pemuda itu dipersilahkan masuk dan berjalan di antara jejalan gadis-gadis, sambil  mendehemkan suaranya bergantian, apabila satu pemuda mendehemkan suara dan ada gadis yang menggoyangkan ibu jarinya, maka orang tua gadis akan membangunkan  anak gadis tersebut dan membawa kembali ke rumah diikuti oleh sang pemuda yang dianggap telah menjadi jodohnya.
Perkawinan biasanya dilaksanakan pada saat selesai tiga kali panen dan paling cepat dua kali panen sekitar (sembilan sampai enam bulan) lamanya. Tujuannya sangat sederhana yakni mempersiapkan sang pemuda untuk matang menghidupi istrinya kelak setelah perkawinan dan memiliki tanggungjawab yang tinggi serta kecintaan yang mendalam. Semasa penantian baik pemuda maupun gadis yang telah memiliki calon mendapat penjagaan ketat dari seluruh masyarakat, mereka tidak boleh bertemu muka langsung, tetapi boleh saling mengirimkan sesuatu apakah makanan atau sulaman dan benda lainnya.
Perkawinan tidak dapat dilaksnakan karena ada ikatan darah langsung, seperti kakak beradik, saudara bapak, saudara ibu, dan proses penyedilikan dilangsungkan mulai pada masa pemilihan di rumah besar sampai pada aaat-saat tinggal beberapa hari akan dilangsungkan pernikahan atau perkawinan. Perkawinan biasanya diawali dengan kesiapan pemuda untuk menghidupi keluargannya seperti kebuh atau pepohonan yang tikerjakan oleh sang pemuda sendiri sampai kepada penyiapan keluargha terhadap beberapa keping kain untuk dipertukarkan sebagai adat. Perkawinan dianggap selesai setelah Tonggol atau tomundo bersama orang tua gadis dan pemuda mengantarkan mereka tinggal di satu tempat yang sudah disiapkan oleh pemuda, mereka dibiarkan hidup bersama sampai waktunya mereka mengungjungi orangtuanya.
Masyarakat Banggai menyebut marga mereka dengan utus, kalau dianggai dikenal dengan pontolutusan  maka di Banggai Daratan dengan dengan potoutusan, dab biasanya meeka yang sekampung menyebut diri mereka dengan sa lipu. Saudara tu’a mereka kenal dengan utus tu’anyo, saudara kecil utus ise’nyo, anak saudara ibu atau ayah mereka sebut dengan; minsan, tominsan. Kalau saudara ayah atau saudara ibu mereka sebut dengan totominsan miin san, kalau sudah menyamping kedua mereka sebut minsan pinduan, seterusnya pintolun, selebih disebut utus-utus.
Perbedaan strata dalam masyarakat yang berdarah bangsawan dengan rakyat biasa sudah lama ditinggalkan, dan menurut beberapa orang tua sudah sejah tidak ada lagi raja Banggai yang dinobatkan secara adat, dan sudah mengikuti pemerintah, sehingga semuanya sama, kecuali apabila ada upacara-upacara tertentu yang menghendaki ada identitas demikian, maka mereka yang berdarah bangsawan dipakaikan dengan pakaian adatnya untuk suatu prosesi  upacara masyarakat, seperti; upacara tumpe di Batui, atau upacara pemilihan pemangku-pemangku adat.
Uraian-uraian di atas menunjukan bahwa sistem kekerabatan masyarakat Banggai telah berkembang, dan mengikuti perkembangan kemajuan zaman, kalaupun ada yang masih melaksanakannya, itu hanya terjadi pada kelompok masyarakat yang ada di Banggai baik Banggai Daratan atau Kepulauan yang belum bisa beradaptasi dengan perkembangan, seperti ; Suku Seasea di Osan di Kecamatan Bulagi Pulau Peling, Loinang kahumamaon di Kecamatan Bunta, Banggai daratan. Mereka memang masih sulit untuk diajak bergabung dan menerima kemajuan pembangunan walaupun berbagai upaya  sudah dilakukan.

F.   Agama dan Kepercayaan
Masyarakat yang mendiami bekas Kerajaan Banggai yang kini sudah menjadi Kabupaten Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan, seperti lazimnya daerah lain di Indonesia  memiliki agama dan kepercayaan lainnya yang sering menjadi norma acuan kehidupan bahkan mengikat praktek-praktek hidup masyarakat tertentu.
Di kerajaan Banggai masa lampau  ada kepercayaan-kepercayaan yang biasa dikenal dengan beberapa istilah seperti belelean, molelean yakni kepercayaan roh roh nenek moyang yang memasuki jasad atau raga satu orang, kemudian menceritrakan keadaan masa lalu orang tertentu atau kejadian-kejadian tertentu. Biasanya kepercayaan ini berkaitan dengan hal-hal baik dan buruk yang menimpa satu keluarga atau satu negeri. Adalagi kepercayaan dinamakan tobuntus yakni kepercayaan terhadap hal-hal buruk yang menimpa seseorang akibat perbuatannya melanggar atau tidak dirindhai orang tua atau nenek moyangnya, sehingga hidupnya menjadi susah, atau sakit berkepanjangan dan akhirnya meninggal.
Kepercayaan-kepercayaan tersebut banyak berkembang dalam masyarakat nama dan jenisnya berbeda-beda, demikian pula penyembuhannya berbeda-beda, kalau yang bersifat umum biasanya zaman dahulu disucikan melalui prosesi mandi disungai yang dipimpin oleh seorang pemimpin agama, kale atau jimalaha dan biasanya dilakukan pada bulan muharaam, tetapi kalau hal yang terjadi secara individu biasanya pengobatannya melalui upacara-upacara berbentuk mantra-mantra atau doa’ do’a yang dipimpin oleh pemuka agama atau tokoh masyarakat yang menerima polelean atau kemasukan roh nenek moyang yang kemudian menunjukan apa yang harus dilakukan.
Meskipun demikian,  umumnya masyarakat  Banggai apakah itu Banggai Daratan atau Banggai Kepulauan adalah pemeluk agama Islam yang taat dan kuat, mereka hampir-hampir tak ada yang berpindah agama dari agama Islam ke agama manapun yang ada, dan kalau ada yang pindah misalnya, maka orang tersebut dianggap bukan saudara dan dipersialhkan meninggalkan kampung. Wakaupun demikian mereka menghargai pemeluk agama lainnya seperti nashrani dan tidak pernah mengganggu berbagai peribadatan, mereka hidup rukun dan saling membantu dalam masalah-masalah sosial.
Sebagai bukti bahwa Islam menjadi agama yang dianut sebagaian besar masyarakat yang pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Banggai adalah berdirinya mesjid-mesjid dan sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah di desa-desa, yang kini sudah dijadikan sebagai Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.
Agama Islam memang merupakan agama yang sudah lama tumbuh dan berkembang, hal tersebut dapat dilihat pada wilayah-wilayah yang ada di kawasan Banggai Darat maupun Banggai Kepulauan, tidak ada peninggalan peribadatan yang mirip dengan pemujaan agama Budha atau Hindu, karena pemujaan satu-satunya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dilakukan dalam bentuk praktik hidup sehari-hari mereka utamanya. Agama islam dapat dikatakan mencapai 90 % dari agama yang dipeluk penduduk, agama Kristen adalah salah satu agama yang didakwakan oleh missi kritiani sejak zaman Belanda, dan pusat utamanya adalah di pulau peling tepatnya di pulau Peling Barat dari Kecamatan Bulagi yang masa lampau merupakan pusat  kerajaan Islam Fuadnino dengan ibu Kota Palabatu.
Hebatnya missi kristiani di Peling Barat menjadikan hampir semua desa yang ada memeluk agama Kristen, dan desa-desa yang  penduduknya beragama Islam sangat sedikit, namun tegar di tenag-tengah ummat kristiani. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa agama dan kepercayaan boleh berbeda, tetapi mereka berasal dari nenek moyang yang sama dari negeri Palabatu. Prinsip kepercayaan ini begitu dipercayai, sehingga tidak pernah terdengar ada konflik agama di sana, bahkan ada beberapa kegiatan peringatan seperti peringatan muharam yang dilakukan masyarakat dan dianggap upacara nenek moyang bukan upacara agama, ummat kritstiani aktif berpartisipasi di dalamnya. 

BAGIAN II
EKSISTENSI KERAJAAN BANGGAI

A.      Asal Usul dan Perkembangan Kerajaan Banggai
Kerajaan Banggai adalah salah satu dari sekian banyak  kerajaan/kesultanan yang pernah tumbuh dan berkembang (eksis) di bumi nusantara, yang belum mendapatkan perhatian dan terekspose ke masyarakat luas apalagi masyarakat dunia, sehingga seakan-akan tenggelam seiring dengan hilangnya berbagai peninggalan kuno akibat usia atau penjarahan (pencurian) oleh tukang radar,[1] dan komplotannya yang membongkar situs-situs atau artefak dan menjualnya kepada penada barang antik yang sampai kini masih belum jelas siapa mereka (misterius), demikian pula hasil jarahannya tidak diketahui dikoleksi oleh siapa di bawa ke mana dan sekarang ada ada di mana, yang jelas barang peninggalan tesebut oleh masyarakat yang ada di beberapa pulau yang dahulu menjadi wilayah kekuasaan pemerintahan sebelum ada kerajaan/kesultanan Banggai seperti di pulau Peleng (peling), Banggai, Labobo, atau sekarang dikenal dengan wilayah kabupaten Banggai Kepulauan.[2]
            Pada masa jauh sebelum kerajaan Banggai  (1571), yaitu pada masa penguasaan Singosari sampai Majapahit, di beberapa pulau yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan telah ada dan berdiri kerajaan kuno yang dipimpin oleh raja-raja dan sangat ditaati serta disayangi oleh rakyatnya secara turun temurun baik itu di pulau Peleng (Peling) Bolukan (Banggai) dan (Mansalean) Labobo.
Kedudukan raja pada masa sebelum kolonial, bukan sekedar penguasa saja tetapi memimpin semua hal yang berkaitan dengan kehidupan rakyatnya, sebagai pengayom rakyat, sebagai pemutus perkara atau sengketa yang terjadi dalam masyarakatnya, maupun sebagai pemimpin upacara-upacara untuk menyembah Yang Maha Kuasa (Jimalaha). Kerajaan yang cukup besar dan menjadi kekuatan raja-raja sekitar pulau Peling adalah suatu kerajaan yang oleh masyarakat peling  dan pulau  sekitar pulau Peling seperti; Tanobolukan, Labobo dan timpaus, Togong dianggap sebagai nenek moyang atau atau asal muasal mereka. Kerajaan tersebut merrka namakan dengan; Fuadino dan berkedudukan Palabatu tepatnya Pulau Peling (sekarang Peling Barat, peta terlampir). Kerajaan Fuadnino berlangsung cukup lama, sampai pada penaklukan kolonial, abad 15.[3]
Dalam perkembangan selanjutnya Kerajaan Fuadino di Palabatu mengalami perpecahan sehingga menjadi empat kerajaan kecil dengan induk tetap kerajaan Fuadino di Palabatu. Kerajaan kecil tersebut  yakni; Kerajaan Buko di Buko (sekarang desa Buko tua) dan Bulagi sekarang daerah oosan di wilayah Peling Barat (sekarang wilayah kecamatan Buko dan kecamatan Bulagi), Kerajaan Sisisipan, Liputomundo dan Kadupadang di Peling Tengah (sekarang kecamatan liang)  dan Timur dibagian Peling Timur berdiri kerajaan Bongganan (sekarang kecamatan Totikum dan Tinangkung), sementara di Tanobolukan, Labobo dan timpaus juga berdiri raja-raja lokal yang berkuasa sesuai dengan kawasan pulau itu sendiri. Meskipun demikian Tanobolukan tetap menjadi kawasan tempat barter atau perdagangan dengan dunia luar, sehingga armada-armada luar senantiasa berada disana.[4] Bukti peninggalan yang dapat diamati adalah adanya lokasi ibu kota kerajaan atau tempat bermukimnya penguasa yang masih dapat dijumpai, seperti ibu kota kerajaan Fuadino di Palabatu, dan beberapa yang telah disebutkan di atas, meskipun tinggal susunan batu-batu kapur memanjang di atas bukit-bukit dengan siswa-sisa makam dari batu yang sudah terbongkar rata dengan permukaan tanah (gambar lokasi terlampir); kecuali benteng/kotak  kerajaan Bongganan yang masih sedikit tampak sebagai benteng karena mulai dipelihara pemerintah kabupaten Banggai Kepulauan dan sudah dijadikan wisata sejarah oleh masyarakat  setempat, karena tempatnya tepat sekitar 1(satu) kilometer berada dibelakang Kantor Bupati Banggai Kepulauan yakni kota Salakan.[5]
Dalam penuturan masyarakat pemangku adat dikemukakan bahwa di kerajaan  Fuadino di Palabatu tepatnya dipusat kerajaan di Peling Barat, zaman dahulu kala telah terbentuk pemukiman-pemukiman penduduk yakni;  pemukiman untuk 8(delapan) suku bangsa di mana tujuh suku bangsa tersebut dikenal telah memiliki peradaban tinggi di dunia dan tercatat dalam sejarah; yaitu kawasan hunian suku bangsa; China, Arab, India, Melayu, Gujarat, Arab, Turki, dan Sea-Sea. Suku bangsa tersebut hidup rukun dibawa kekuasaan raja Fuadino di Palabatu. Suku bangsa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan suku lokal adalah China, India dan Arab. Ketiga suku bangsa inilah kemudian yang akhirnya menyatu dengan suku asli (lokal) dan kemudian memisahkan diri dari suku asli yang tidak mau bercampur yang dengan esktrim tidak mau menerima pembauran dengan suku lainnya. Mereka yang telah berasimilasi dengan suku asli kemudian memisahkan diri dan turun ke dataran rendah atau tepi pantai dan mereka inilai kemudian yang kemudian dikenal dengan suku bangsa Banggai dengan menggunakan bahasa aqi’ atau qi’, sedangkan suku yang masih memelihara budaya nenek moyang menggunakan bahasa ai’ yang berarti “tidak” dan keduanya saat ini hampir tidak saling memahami.
Secara genetik suku bangsa dari Kerajaan Fuadino di Palabatu yang  telah bercampur (berasimilasi) dengan suku bangsa lain yang datang di sana dapat dikenali melalui gejala-gejala fisik antara lain sebagai berikut; suku bangsa Sea-Sea keturunan dari percampuran suku asli dan India dan Arab memiliki kulit hitam, bola mata besar, badan berbulu, memiliki tulang yang besar dan berperawakan besar dengan tinggi rata-rata di atas 165 centimeter; suku bangsa Sea-Sea keturunan campuran dengan suku bangsa China, memiliki cirri umum berperawakan sedang, tinggi tidak melebihi 165 centimeter, berkulit terang dan putih, badan tidak berbulu, mata sipit, sedangkan suku asli Sea-Sea berperawakan kecil, kulit sawomatang dan tinggi mereka tidak melebihi 160 centimeter. Ciri yang sangat berbeda sekrang adalah suku bangsa Sea-Sea tinggal di pegunungan sedangkan suku bangsa campuran tinggal di tepi pantai[6]
Kerajaan Fuadino di Palabatu  memiliki penduduk yang dahulu sampai sekarang masih diketahui yakni suku bangsa sea-sea (sekarang berada di puncak gunung Peling Barat), mereka bertempat tinggal di sana dan setia menjaga kawasan yang sejak nenek moyangnya menjadi tempat tinggal atau tempat tinggal raja-rajanya. Di sana terdapat kawah pemandian raja-raja Palabatu yang dikenal dengan lemelu. Lemelu adalah satu kawah pemandian, berisi air bening dan sangat indah, tampatnya berada ditengah-tengah pulau Peling dan berada diketinggian bukit yang jaraknya kurang lebih 10 (sepuluh kilometer) dari desa Buko dan Lumbi-Lumbia yang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.[7]    
Kerajaan Fuadino Palabatu di pulau Peling tergolong kerajaan yang tertua yang kemudian ditundukan oleh kerajaan Singosari, hanya saja pengaruh kepercayaan seperti Budha dan Hindhu tidak tampak karena tidak menunjukan bekas-bekas peninggalan seperti yang ada di pulau Jawa dan pulau  Sumatra berupa candi. Kondisi demikian dapat mengindikasikan beberapa hal antara lain:
Pertama: bahwa memang telah ada satu kepercayaan tersendiri yang diperpegangi oleh raja-raja dan rakyat Palabatu pada masa itu sehingga agama (kepercayaan) Budha dan Hindu yang dianut oleh kerajaan Singosari dan Majapatih tidak mempengaruhi masyarakat. Nama kepercayaannya tidak diketahui persis apa namanya apakah itu monotheis, polytheis, pantheis dan sebagainya, meskipun demikian ada yang berspekulasi menyatakan bahwa mereka beragama budha, dan sebagian lagi menyatakan mereka tidak memiliki nama satu agama tetapi mereka menyembah dan percaya kepada yang maha kuasa dan penguasa alam semesta, bahkan ada yang menyebutnya dengan agama Halaik namun setelah ditelusuri pengertian halaik artinya tidak menentu dan atau tidak jelas; meskipun demikian kepercayaan itu begitu diyakni masyarakatnya dan sampai kini perilaku yang berkaitan dengan kepercayaan mereka pada masa lampau yang dikerjakan nenek moyangnya dapat dijumpai/ditemukan pada suku bangsa sea-sea yang masih tertinggal di dataran tinggi pulau Peling daerah Peling Barat. Perilaku dimaksud seperti; berpuasa untuk bulan tertentu, tidak boleh kawin dengan saudara kandung; menghormati binatang dan menganggap salah satu binatang sebagai titisan dewa dan dijadikan raja aau penguasa; binatang tersebut adalah “meong(kucing)”; terlarang menyebut apalagi menceritrakan nama-nama, keturunan atau hal ikhwal berkaitan dengan raja atau pimpinannya; dilarang atau terlarang bertemu atau berjumpa dengan orang atau manusia yang bukan bagian dari suku bangsanya; pada waktu (bulan) tertentu dilarang memakan binatang yang ada dihutan atau kata lain tidak boleh berburu, bahkan membiarkan binatang itu hidup tanpa gangguan siapapun; mereka meyakini bahwa ada kehidupan yang sama dengan kehidupan manusia pada binatang; hutan atau tumbuhan tertentu sehingga tidak boleh atau terlarang dijamah manusia, dan kalau itu dilanggar maka akan terjadi bencana besar yang melanda mereka.
Kedua: penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan Singosari dan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan kecil di nusantara khususnya di kerajaan Fuadino, yang berkedudukan di Palabatu tidak membawa atau tidak memaksakan keyakinan atau kepercayaan mereka, atau dengan kata lain penaklukan hanya untuk menguasai daerah-daerah (wilayah) yang strategis terkait dengan perdagangan untuk kebutuhan hidup rakyat dan pengakuan atau kekuasaan; tidak sama dengan penaklukan yang dilakukan Belanda dan Pertugis mereka disamping kepentingan perdagangan juga kepentingan missi keagamaan yakni; Katholik dan Protestan.[8]
Kerajaan Fuadino di Palabatu dengan dengan suku bangsanya Sea-Sea adalah kerajaan lokal kuno di Pulau Peling yang diperkirakan jauh sebelum penaklukan Singosari dan Majapahit abad 13 telah lama eksis, bahkan beberapa peneliti memperkirakan sejak zaman sebelum adanya tulis menulis sekitar abad ke 7 dan 8 masehi, salah satunya buktinya yang kuat adalah kerajaan Sriwijaya sudah memasukan daerah ini sebagai daerah kekuasaan (lihat peta terlampir) dan memiliki hubungan atau kesamaan adat istiadat dengan Kalimantan Timur (kutai).[9]
Kerajaan Fuadino di Palabatu Pulau Peling memiliki satu tempat yang sering digunakan sebagai  wadah di dalam melakukan kegiatan tukar menukar barang (transsaksi) dengan pihak asing. Daerah tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan pusat perekonomian dan sangat terkenal diberbagai pelosok nusantara. Tempat tersebut mereka namakan dengan sebutan “Tanobolukan”. Tanobolukan ini sebuah pulau yang berada di tengah-tengah pulau Peling, Pulau Labobo dan Pulau Tidore (Ternate) (peta terlampir).
Ketenaran Tanobolukan kemudian menjadi wilayah penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan Singosari dan Majapahit; penaklukan tersebut kemudian menjadikan menjadikan “tanobolukan” (sekarang dikenal dengan pulau Banggai)  menjadi  lebih  penting dan strategis sebagai pelabuhan transit antar pulau di nusantara, utamanya hasil bumi berupa rempah-rempah dari sebelah utara (sekarang Mauku) dengan kerajaan lain yang ada di pulau  Jawa, Sumatera bahkan dengan dunia luar.  Kekayaan  alam yang melimpah yang menjadi perburuan  hasil laut  seperti; rempah-rempah, mutiara, yang begitu dibutuhkan oleh penduduk dunia barat dan timur yang menggunakannya sebagai bahan-bahan di dalam hal kesehatan dan sebagainya. Letak pulau ini sangat strategis sehingga sejak zaman dahulu kala menjadi tempat singgah  pelaut-pelaut  nusantara, bahkan mancanegara, termasuk Kolonial Pertugis dan Belanda. Karena posisinya yang strategis inilah, pulau ini menjadi sangat dikenal oleh para pedagang antar pulau, bahkan sampai saat ini sudah dijadikan pusat perdagangan kabupaten Banggai Kepulauan.
Ketenaran Tanobolukan sebagai pusat dagang dikawasan timur nusantara yang terletak di antara pulau  Sulawesi dan Halmahera (Maluku) tidak lepas dari ketenaran rempah-rempah  yang ada dan diperjual belikan disini, bahkan dapat dikatakan Tanobolukan merupakan pintu gerbang menuju Ambon dan pulau-pulau lain sebagai penghasil rempah. Letak strategis inilah yang menjadikan kerajaan Singosari dan Majapahit tertarik untuk menjalin hubungan perdagangan antar pulau. Pada masa kekuasaan Raja Kartanegara tahun  1288-1298, disebutksan bahwa ada kerajaan di sebelah timur pulau Sulawesi yang bernama “Benggawi”.[10]  Penyebutan Benggawi tidak terlepas dari pemahaman tentang kerajaan penting yang jauh di sebelah  timur pulau jawa.
 Kerajaan Fuadino  yang berpusat di Pulau Peling dengan kotanya Palabatu pada akhirnya mendapat serbuan dari penaklukan dari kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Hayam Wuruk (1351-1389), sehingga dengan sendirinya kerajaan Fuadino yang berpusat di Palabatu tinggal menjadi kerajaan kecil dan Tanobolukan yang dahulunya hanya sebagai kota perdagangan berubah fungsi menjadi ibu kota Kerajaan yang mereka namakan dengan Benggawi dan seterusnya setelah penaklukan kolonial Belanda menjadi Banggai, dan akhirnya dengan sendirinya wilayah yang menjadi kekuasaan kerajaan Fuadino menjadi kekuasaan kerajaan Benggawi termasuk seluruh pulau kecil disektarnya.
Diantara bukti kuat bahwa Kerajaan Benggawi telah terkenal sejak Zaman Mojopahit tulisan salah seorang Pujangga Mojopahit bernama Mpu Prapanca dalam bukunya  “Negara Kartanegara.”[11]  Hal tersebut dapat dilihat sendiri melalui peta kerajaan Singosari berkaitan dengan wilayah yang menjadi wilayah atau daerah kekuasaaannya (peta terlampir); bahkan pada salah satu tempat, tepatnya di desa  Unu  kecamatan  Bulagi (Peling Barat) terdapat sebuah pedang besar yang mereka sebut dengan Pedang Masanda. Konon menurut ceritra yang berkembang dikalangan orang-orang tua dahulu pedang Masanda adalah pedang peninggalan tentara kerajaan Majapahit pada saat perang menaklukan kerajaan Fuadino di Palabatu. Pedang tersebut sekarang diabadikan masyarakat setempat di kantor Desa Unu kecamatan Bulagi Peling Barat (dapat dilihat pada gambar terlampir).
Bukti bahwa yang lain yang dapat dipercaya bahwa Benggawi (Banggai) pernah bergabung dengan Kerajaan Majapahit setidaknya seperti yang tertulis dalam Negarakertagama, kitab dengan tarikh tahun Saka 1287 atau 1365 M. Dalam karya gubahan Mpu Prapanca ini, tepatnya pada syair nomor 14 bait ke-5, tergurat rangkaian kata beraksara Pallawa dimana dicantumkan nama Benggawi sebagai salah satu wilayah yang berhasil disatukan oleh Majapahit.  Nukilan naskah kuno yang ditulis dalam bahasa Sanskerta itu berbunyi sebagai berikut:
Ikang Saka Nusa-Nusa Mangkasara, Buntun, Benggawi, Kunir, Galiayo, Murang Ling, Salayah, Sumba, Solor, Munar, Muah, Tikang, I Wandleha, Athawa, Maloko, Wiwawunri Serani Timur Mukadi Ningagaku Nusantara.
Penyebutan  Benggawi dalam bahasa Sansekerta sebagai bahasa tertua di nusantara menunjukan eksistensi kerajaan Benggawi pada saat itu yang terkenal dengan letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan rempah-rempah dan hasil  olahan  lainnya, telah  berusia cukup lama setara dengan raja-raja keberadaan raja-raja pada kerajaan tertua di pulau jawa, sumatera atau  kalimantan. Akhir dari kerajaan tertua Fuadino di Pulau Peling tidak terlepas dari kekuasaan penyerangan dan penaklukan yang dilakukan kerajaan Majapahit, dan tidak lepas dari letak strategis pulau Banggai sebagai kota perdagangan dan pintu gerbang menuju kepulauan Maluku penghasil utama rempah-rempah yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia di dunia barat zaman dahulu kala.
2. Masa Penjajahan kolonial Pertugis dan Belanda
Pada masa sebelum  penaklukan kolonial Pertugis dan Belanda, pada tiap-tiap pulau sudah berdiri kerajaan-kerajaan kecil namun mereka tetap mengakui keberadaan kerajaan Fuadino di Peling. Raja-raja kecil yang ada di tiap-tiap pulau diberikan kekuasaan otonom karena bagaimanapun mereka adalah; utus, atau montolutusan  artinya satu dan bersaudara karena berasal dari nenek moyang yang sama. Di Lolantang dikenal kerajaan Fuadino, di Labobo dikenal kerajan Basilingana,  di Bangkurung dikenal keajaan Basokoang. Bahkan di Labobo, sebelum kehadiran Adi Soko (Adi Cokro) Ayahandanya Frins Mandapar (Frins Van Vaar ) ada semacam prasasti  yang dikenal dengan prasasti Batugaja dan Batugoan, beserta topi kerajaan yang biasa disebut dengan ulu-ulu, terbuat dari kuningan modelnya hampir sama dengan topi romawi.[12] Itulah sebabnya baik itu di Pulau Peling dikenal beberapa silsila, demikian pula di Pulau Banggai (dahulu Tano Bolukan, Benggawi)  diberikan kewenangan mengelola kerajaan mereka sendiri, terkait dengan sistim, pemerintah otonom. Itulah sebabnya terdapat nama raja-raja yang dapat dicatat pada saat wawancara, di Peling Barat  Kerajaan Fuadino, Buko dan Bulagi, di Pulau Banggai, dan di Pulau Labobo bangkurung.
Beberapa catatan mengenai  silsila raja-raja sebelum masa Portugis dan Belanda sebagai berikut:
1.    Raja yang memerintah di Tanobolukan dan Kerajaan Banggai
a.       Raja yang memerintah sebelum tahun 1600 di Tanobolukan (Pulau Banggai sekarang) adalah:
1)               Gahani-gahani
2)               Tahani-Tahani
3)               Adi Kalut Pakalut
4)               Adi Moute
5)               Adi lam al Palambal (Adi Ambar)
6)               Kokusu
7)               Sasa (mbumbu doi Patola)
8)               Sabol
9)               Adi Soko (mbumbo Doi Jawa)
10)           Abdul Jabbar (mbumbu Doi Pengkalalas Doi Tano
11)           Mpu Nolo (mbumbu Ooi Ndalangon)
12)           Ansyar (mbumbu Doi Palakangkang)
13)           Kadubo (Mbumbu Doi Tetelengan
14)           Kalukabulang I (mbumbu Doi Batang)
15)           Kalukubulang II (mbumbu Doi Taipa)
16)           Manila (Mbumbu Dinadat)
17)           Tojani (Mbumbu Aibinggi)
18)           Abu Kasim  (mbumbu Sinabebekon)
19)           Tosali (mbumbu doi Taipa)
20)           Syidada (bumbu Pangkola.
b.      Raja yang memerintah Kerajaan Banggai sesudah tahun 1600
1)        Maulana Frins Mandapar (Sultan Said Uddin Berkatsyah)
2)        Molen
3)        Paudagar
4)        Mulang
5)        Abdul Gani
6)        Abu Kasim
7)        Mbumbu Doi Mondonun (Mendono)
8)        Mbumbu Doi Padongko
9)        Mbumbu Doi Mandaria
10)    Atondeng
11)    Tadja
12)    Laota
13)    Agama
14)    Tatu Tonga
15)    Tomundo Soak
16)    Tomundo Nurdin
17)    Tomundo Abdiul Azis
18)    Tomundo Abdul Rahman
19)    Tomundo Awaluddin
20)    Tomundo Nurdin Daud
21)    Tomundo S. AmiruddinAmir.
2.    Peling (Peleng)
a.       Kerajaan Fuadino----- ke kerajaan Buko :Syaoli, Imam Sya’baan, ----- Terus ke:
1)        Tonggol Doduung (pergi ke Tano Bolukan/Banggai),
2)        Tonggol Kalapunge;
3)        Tonggol Sabbu,
4)        Tonggol Muoso;
5)        Tonggol Sapendeng
6)        Tonggol Sigaluan
7)        Tonggol Molibi
8)        Tonggol Nggamasi
9)        Dinggolio
10)    Tonggol Papakul
11)    Tonggol Mouso
b.      Kerajaan Fuadino---------- pecahan ke kerajaan Suit:
1)        Tonggol Boine
2)        Tonggol Basonggo
3)        Tonggol Saili
4)        Tonggol Tambalu
5)        Tonggol Kaluna
6)        Tonggol Nunungi
7)        Tonggol Tatube
8)        Tonggol Saling
9)        Tonggol Ndondou
10)    Tonggol Yuludau
11)    Tonggol Biinding
12)    Tonggol Tatube
13)    Tonggol Bulukama
14)    Tonggol Kupe
15)    Tonggol Sanuang
16)    Tonggol Salipene
17)    Tonggol Suni Salaba
18)    Tonggol Safar
19)    Tonggol Salingun Yaitan
20)    Tonggol Asidin
3.    Labobo Bangkurung
a.                     Tonggol Kaupapi
b.                     Tonggol Pandoait
c.                     Tonggol Landoait
d.                    Tonggol Tandoait
e.                     Tonggol Bandean
f.                      Tonggol Tandean
g.                     Tonggol Bandekon
h.                     Tonggol Labandekon
i.                       Tonggol Landetau /pandekan
j.                       Tonggol Sandean
k.                     Tonggol Samilano
l.                       Tonggol Maruku
m.                   kupiing
n.                     Tonggol?
o.                     Tonggol Yapi
B.  Pengaruh Islam terhadap Kerajaan Banggai
Bertitik tolak dari teori masuknya Islam di Indonesia yang telah dikemukakan terdahulu, mulai dari teori; (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekkah (Arab); sesungguhnya berdasar fakta lapangan yang ada di beberapa pulau yang pada saat sebelum kerajaan Banggai didirikan oleh Sultan Ternate bersama-sama dengan Belanda, teori yang tepat adalah teori Mekka, dan apabila teori ini yang digunakan maka Islam masuk ke kerajaan Banggai apakah itu di Pulau Peling, Pulau Tanobolukan (Banggai), Pulau Labobo, dan Pulau Bangkurung sekitar abad ke VII – VIII M. langsung dari tanah Arab.
Hal ini dilihat dari begitu kentalnya pengaruh nilai ajaran Islam terhadap kehidupan masyarakat pada waktu itu seperti; menilik nama dari kerajaan Fuadino yang berpusat di Palabatu tepatnya di Pulau Peling Barat merupakan nama-nama yang aksaranya lebih atau sangat dekat dengan aksara Arab yakni; huruf fa ( ف ), wau ( و )   dal (  ډ  ) dan nun   (  ن ). Demikian pula nama-nama pemimpin mereka, meskipun ada nama-nama yang memang kental dengan nama melayu, tetap ada yang bernuansa Arab seperti Imam Syaoli yang tertulis pada dinding makam yang ada di desa Lolantang, maupun tulisan Imam Sya’ban pada batu nisan peninggalan pemuka Islam di desa lolantang, tulisan aksara Arab pada media yang oleh masyarakat dan pemegangnya mereka namakan dengan peta alam. (gambar/foto terlampir) yang dijadikan oleh Sayyid Idrus sebagai media untuk memberikan pelajaran kepada murid-murid yang datang berguru dari belahan nusantara. pemikiran cukup mendasar adalah ekspedisi penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan Singosari  dan Gajah Mada yang beragama  Hindu dan Budha,  namun selama beberapa abad sejak kedatangan mereka di Benggawi sampai pada datangnya kolonial Belanda, (kurang lebih 300 tahun) tidak memberikan pengaruh budaya baik itu berbentuk bangunan atau perilaku dan upacara-upacara tertentu seperti dilakukan dalam pemujaan atau persembahan kepada yang Maha Kuasa yang sama dengan apa yang ada di Pulau Jawa; termasuk tulisan-tulisan yang ada pada beberapa benda kuno yang pernah ditemukan oleh penggali-penggali benda kuno di Pulau Peling dan Pulau Labobo.
Aspek lainnya yang menunjukan betapa besarnya pengaruh Islam di kawasan kerajaan Banggai adalah bahwa pada saat pengangkatan atau penunjukan Frins Mandapar sebagai raja oleh kesultanan Ternate; Islam telah lama berkembang karena itu Frins Mandapar menjadikan agama Islam sebagai agama keluarga raja, sehingga ada beberapa tokoh masyarakat menyatakan bahwa Frins Mandapar adalah pembawa Islam atau pemeluk Islam pertama di Banggai, dan mulai saat itu agama Islam terus mempengaruhi tata kelola pemerintahan dan aspek kehidupan masyarakat lainnya, walaupun di setiap pulau atau kerajaan kecil-kecil yang tidak berdaulat itu terjadi perbedaan penyebutan fungsi publiknya.
Di Pulau Peling yakni kerajaan Fuadino yang kemudian pecah ke dalam dua kerajaan kecil Buko dan Bulagi, kemudian disusul berdirinya Kerajaan Sisipan, Kerajaan Liputomundo,KerajaanKadupadang, dan Bongganan, terdapat 4 (empat) struktur masyarakat yakni; Tonggol, Qadi’, Jimalah, dan rakyat umumnya. Tonggol jelas adalah penguasa atau raja; Qadi’ adalah pembantu raja berkaitan dengan hukum atau putusan sengketa yang tmbul dalam masyarakat; Jiimala adalah kaum intelektual, yang memberikan bantuan kepada qadi’ dan tonggol dalam memimpin berbagai kegiatan agama dan kemasyarakatan, Jiimalaha tidak diangkat atau dikukuhkan oleh raja atau qadi’(penuasa); tetapi lahir atas kepercayaan rakyat dan pengakuannya diberikan rakyat, karena itu Jiimalaha sering diangap sebagai keluarga raja atau Qadi’ tetapi sesunguhnya bukan, dia hadir sebagai pemimpin karena kharismanya, ilmunya atau sepak terjangnya terpuji yang ditunjukan dalam masyarakat luas; sedangkan dimaksud rakyat umumnya adalah orang-orang yang setia mengikuti Tonggol. Hal tersebut berlaku pula pada beberapa daerah lainnya yakni di Pulau Labobo dan Bangkurung, serta di daerah perluasan yaitu Loinang Barat (sekarang daerah Toli - Batui)dan Loinang Timur (Luwuk Timur, Masama, Lamala, Balantak) serta Baloa’ (sekarang Pagimana, Bunta, Bulan).
Khusus di Pulau Banggai dahulu sebelum berdirinya kerajaan Banggai telah ada sistem pemerintahan, namun peristilahannya berbeda; kalau raja disebut dengan Jogugu, kemudian pendampingnya dalam urusan masyarakat namanya qadi’ termasuk mengurusi agama, jadi tugasnya mulai dari urusan kerumah tangga sampai dengan menangani kasus-kasus dalam masyarakat. Pada masa setelah kerajaan Banggai berdiri maka gelar  raja menjadi Tomundo, dibawahnya, Basalo, Kapitan, dan Distrik, sedangkan keluarga mereka dinamai dengan bosaanyo. Pengaruh Islam terhadap sistem pemerintahannya antara lain juga adalah yang menjadi Tomundo, Basalo, Kapitan, Distrik beragama Islam dan dilantik dalam satu upacara dengan menggunakan sumpah, walaupun sumpah (molabuk), tersebut diucapkan dengan bahasa banggai yang dikenal dengan “Molabuk Loyos Doy Mampastaka” (bunyi sumpah tersebut selengkapnya terlampir).
Hal lain lagi yang menunjukan betapa pengaruh Islam sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Banggai adalah keluarga  Tomundo, Basalo, Kapitan, Distrik harus belajar mengaji dengan menggunakan alQura’an pusaka yang disalin dengan tangan secara turun temurun dari masa sebelum berdirinya kerajaan Banggai, dan alquran Tulisan tangan yang digunakan keluarga Tomundo, Basalo, Kapitan, Distrik mengaji masih ada, hanya saja sampilannya tidak utuh lagi. (copy alquran tersebut terlampir)
Pengaruh Islam terhadap kerajaan Banggai, tampaknya bukan saja karena telah lamanya Islam berada di wilayah ini, tetapi adapula pengaruh luar khususnya dari krajaan Gowa yang memang sudah diperintah oleh raja beragama Islam. Kerajaan Banggai dibawa pengaruh Gowa sejak tahun 1625-1667, setelah Sultan Hasanuddin menyerah sesuai perjanjian Bongaya, dan sejak krajaan Gowa menguasai  Banggai  kurang lebih 42 tahun banyak pemuka atau ahli agama Islam yang datang ke Banggai, sehingga mulai saat itu tejalin ikatan emosional yang antara orang-orang makassar dengan Banggai.
Pengaruh Islam terhadap pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Banggai sanga jelas, sebelum kerajaan Banggai berdiri, agama Islam telah menyebar ke berbagai pulau yang menjadi kekuasaan kerajaan Banggai, dan pada waktu sebelum kerajaan Banggai, baik di Pulau Peling maupun di Pulau Labobo dan Bangkurung.
Di Pulau labobo Islam berkembang dan mempengaruhi tatanan masyarakat setempat dan sampai saat ini secara turun temurun mereka tetap melestarikan dan menumbuh suburkan nilai musyawarah dalam memutuskan suatu pekerjaan. Pulau Labobo yang lebih dikenal dengan Mansalean, sejak zaman dahulu dijadikan tempat untuk menyelesaikan sengketa kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Pulau Peling, atau Pulau Banggai, itulah karenanya tempat ini dinamakan mansalean  artinya tempat untuk bermusyawarah atau berdiskusi guna memutuskan perkara yang dihadapi.
Pengaruh Islam terhadap perkembangan kerajaan Banggai jauh sebelum penaklukan Singosari dan Majapahit, hal ini banyak diperoleh informasi melalui penuturan beberapa anggota masyarakat yang peduli bahwa di pulau Peling, Bolukan, Labobo dan Bangkurung, rakyatnya hidup aman dan damai, mereka melakuna kehidupan sebagai Negara maritime yang kuat dank arena semuanya tercukupi kehidupannya oleh kekayaan alam sekitarnya, mereka tidak memiliki semangat untuk mengintervensi wilayah lain yang ada sekitarnya, mereka mempunyi satu kepercayaan yang dibawa orang Arab dan Cina ke sana, di Peling dikenal Imam Syaoli Abu Da’i, Imam Sya’baan, terakhir Sayyid Idrus. Di Pulau Banggai ada Imam Sya’baan, di Labobo di kenal sebutan atau gelar Leeng sebagai pemimpin masyarakat. Orang-orang Arab dan Cina itu dipercaya oleh raja untuk mengatur tata hukum kemasyarakatan dipercayakan kepada saudagar Arab dan Cina dan dilihat dari letak pekuburan mereka selalu saja berdampingan, ini menandakan bahwa sudah lama keturunan Arab dan cina datang ke Banggai dengan raja-rajasangat dekat hubungannya.       
Satu hal yang menarik adalah bahwasanya orang Arab dan Cina yang membawa Islam ke Banggai dalam hal ini di pulau peling tepat di daerah Peling Barat (sekarang Kecamatan Buko, Kecamatan Bulagi) terdapat lokasi pekuburan suku bangsa; Arab, Cina, Turki, India, dan Gujarat, namun karena letaknya dipegunungan dengan ketinggian kurang lebih seratus sampai empat ratus meter di atas pemukaan laut maka kondisinya menjadi hutan, dan tidak terurus, yang tampak hanya susunan-susunan batu kapur dengan tinggi tiga sampai tujuh meter berjejer, lebar dua meter  memanjang berbentuk segi empat di tengah-tengahnya terdapat kuburan dengan batu nisan yang tidak terurus lagi; ada yang masih utuh berdiri batu nisannya, ada yang suda rebah. Susunan satu lokasi kuburan selalu membentuk model shaf dalam satu kompleks ada dua sampai duabelas kuburan satu tempat, tiap tempat pasti satu kubur yang tersendiri yang lainnya menempat shaf yang  pertama dan kedua. (Sketsa gambar terlampir). Pekuburan-pekuburan tersebut  membentang dari buko kecamatan Buko sampai Bulagi dan tampak sekali sebagai pekuburan muslim karena batu nisan yang masih tegak ada yang satu batu nisannya saja, ada yang dua.
Wilayah pekuburan muslim ini sekarang dari beberapa puluh tahun lalu sejak kolonial gencar menjalankan missi Kristiani telah berubah peta, umat muslim sedikit sekali; sebagai gambarannya Kecamatan Buko Selatan sekarang, dari dua belas desa, berpenduduk muslim hanya dua desa yakni desa Buko dan Kambani, yang muslim; selebihnya yakni sepuluh desa mayoritas Kristiani. Di kecamatan Buko ada  empat desa yang mayoritas muslim dari  dua belas desa yang ada. Desa yang mayoritas penduduknya muslim adalah desa: Leme-leme bungin, Tataba, Labasiano, Lalong di Kecamatan Bulagi Selatan yang muslim hanya desa Balalon, dan Bone Puso.
Melihat peninggalan-peninggalan yang ada dengan kenyataan masyarakat yang ada sekarang sangatlah bertolak belakang sebab pekuburan yang banyak bercirikan pekuburan Islam tetapi masyarakatnya sedikit sekali yang muslim, bahkan ada bebeapa desa yang sama sekali tidak ada orang Islamnya, seperti desa Lolantang lama yaitu desa di mana pemuka-pemuka Islam pertama kali masuk dan tinggal di Lolantang, sekarang tidak ada orang Islamnya, bahkan satu tempat yang dipercaya masyarakat tempat pertama mesjid berdiri karena setiap bulan ramadhan setiap masuk waktu maghrib dan shubuh terdengar suara adzan sekarangg sudah menjadi kandang ternak hewan Babi. Kondisi di atas terjadi karena di sini telah beberapa kali terjadi penyerangan besar-besaran mulai dari zaman kerajaan Singosari, Majapahait,  dan kolonial Belanda.
Pada zaman kolonial Belanda, terjadi suatu perang yang begitu dahsyat, sehingga bantak tentara Belanda dan Tidore (Tobelo) yang meninggal, sedangkan raja atau pemimpin dan pengawalnya tidak bisa dikalahkan; akhirnya Belanda menggunakan taktik perang melalui serangan racun bekerjasama dengan orang dalam sendiri, caranya adalah : memberi racun pada setiap sumber mata air yang dikonsumsi oleh raja dan rakyat Fuadino, sehingga akhirnya semua orang yang meminum air dari sumber mata air yang ada di Peling Barat yang telah diracuni banyak meninggal, kecuali sebagian orang-orang yang melarikan diri ke beberapa kerajaan di sebelah Barat, seperti; Kerajaan Tobungko, Loinang Barat dan Loinang Timur. Konon kabarnya di pantai-pantai yang ada di pulau Peling Barat sangat banyak tengkorak manusia berserakan, ada yang mengatakan itu tengkorak tentara Tobelo (Bala Tentara Kerajaan Ternate) ada yang mengatakan itu adalah tengkorak manusia rakyat dan pemimpin kerajaan Fuadino yang mati (meninggal) setelah meminum air yang telah di racuni oleh bala tentara Belanda bersama Tobelo, di bantu  orang-orang yang berkhianat kepada bangsanya sendiri.
Setelah peristiwa itu Kerajaan Fuadino (Buko-Bulagi) menjadi sangat lemah dan Belanda mulai berkuasa menjalankan missinya dengan leluasa. Bagi penduduk yang mengikuti agama yang dianut Belanda dibiarkan menjalankan aktifitas sehari-hari, tetapi bagi masyarakat yang bandel tidak mau mengikuti kemauan Belanda termasuk agamanya, mereka disiksa, ditangkapi kemudian dinaikan ke atas kapal belanda dan dibuang entah kemana dan mereka tidak pernah kembali kekampung halaman hidup atau mati, aktifitas Belanda ini berjalan sejak penaklukan abad 16 sampai Belanda meninggalkan nusantara.
Meskipun telah terjadi peristiwa masa lalu seperti di atas, sikap dan perilaku yang telah diajarkan nenek moyangnya tetap dipegang teguh oleh masyarakat setempat dan perilaku itu sangat relevan dengan nilai ajaran Islam misalnya saja dalam hal apabila terjadi peritiwa kematian dalam satu keuarga, mereka senantiasa melibatkan petugas pembagi harta dengan tujuan agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat, pembagian mereka terdiri dari penerima warisan langsung, penerima warisan untuk umum dan penerima warisan untuk orang yang mengurus warisan itu.
C.  Kerajaan Banggai di masa Kekuasaan Ternate
Pada masa Kerajaan Banggai di bawa kekuasaan Ternater dapat dikemukakan bahwa wilayahnya sudah mencakup Banggai kepulauan dan daratan. Di daratan memanjang sepanjang pantai wilayah pantai selatan dan pantai timur Pulau Sulawesi; di sebelah timur terletak daerah Balante (sekarang Balantak), di selatan terdapat daerah Batue (sekarang Batui) atau Mondono.
Kedua daerah itu tampaknya memiliki penduduk petani yang patuh dan damai tetapi yang sebagian besar masuk ke pedalaman, menarik diri dari pantai karena takut kepada perompak. Mereka menanam padi, jagung, nila, katun dan tebu, menenun baju dan membuat perahu, mereka lebih banyak menggunakan sendiri daripada menjualnya karena kerawanan perairan di sana.[13]
Pertanian padi setiap tahun menghasilkan 400-500 ton untuk diekspor. Tanaman sagu di beberapa daerah berlimpah. Banyak dipelihara masyrakat kerbau, sapi, sapi liar dan kambingliar, hanya kuda tidak ada. Penduduk tinggal di kampung-kampung teratur yang rumahnya, dibangun tinggi di atas tonggak, mampu menampung sejumlah keluarga. Tuan van der Hart memperkirakan jumlah penduduk Balante dan Mondono sebanyak  kurang lebih 40-50 ribu jiwa. Tuan Bosscher dan Mattijsen yang mengunjungi negori Mondono menafsirkan  8 negori di daerah atau distrik Mondono semuanya, yang pada akhir tahun 1852 jumlah seluruh penduduknya mencapai 9843 jiwa. Di antara negori-negori dengan penduduk berjumlah 3000 jiwa di Loinang barat;  dan sekitar 4000 jiwa di Loinang timur.  Mondono merupakan negeri yang dianggap sebagai tumbuh berkembang saat itu berpenduduk 575 jiwa, Batui dengan 606 jiwa, Tankean (Tangkian) 234 jiwa, Kintom 306 jiwa, Lantio  451 jiwa, dan Look (Luwuk) 561 jiwa.[14]
Di wilayah ini tekanan kekuasaan Ternate sangat terasa, di Mondono ada ditempatkan pejabat Kesultanan Ternate dengan pangkat sekretaris. Dia tunduk kepada utusan Banggai. Disamping kerajaan Bangai ada kerajaan yang lebih besdar wilayahnya yaitu kerajaan Tombuku. Kerajaan ini mencakup sebagian besar pantai timur Sulawesi, yang meliputi semenanjung paling timur laut sampai ke daerah Batui (Mondono) dan  di semenanjung tenggara sampai semenanjung Laiwui (sekarang wilayahAmpana Kepulauan)
Tombuku sebagai satu kerajaan seperti halnya Banggai memberontak terhadap kekuasaan Ternate. Untuk mengatasi penentangan kerajaan-kerajaan yang ada diwilayah kekuasaanny, kerajaan ternate menggunakan jasa bajak laut yang dikenal dengan pelayaran hongi; tujuannya adalah untuk memulihkan kekuasaan Sultan.
Pemberontakan Tombuku terhadap Ternate pada tahun 1842 tidak bisa dipadamkan, kecuali setelah armada kora-kora dikirim ke sana dan mengorbankan 500 orang Ternate.  Sejak ini jarang ada ketenangan lagi. Raja Tombuku yang dipilih oleh para bangsawan Tombuku tetapi diangkat oleh Sultan Ternate tunduk kepada sultan seperti halnya raja Banggai, dan Sultan Ternate juga memiliki utusan dan para pejabat, perwira serta serdadu lainnya yang seperti di tempat lain hanya saja mereka yang diutus lebih banyak menindas dan memeras penduduk tidak seperti yang dikehendaki Sultan. Raja Tombuku yang menentang bernama Kaicil Baba.
Tombuku dibagi dalam empat distrik yaitu Tombuku, Toepeh, Bahu Solo dan Tofi yang seluruhnya pada akhir tahun 1852 dihuni oleh 15.030 jiwa penduduk, atau tanpa termasuk pulau Mauni, sebanyak 13411 jiwa, suatu jumlah yang sangat kecil ketika orang juga memperhatikan bahwa Tombuku mencakup luas dua kali wilayah Minahasa. Tombuku utara, yang daerahnya berbatasan dengan Bolang Mongondow tampaknya tidak berpenghuni. Distrik Toepef dan Toffi terletak di dekat teluk Tomori, Tombuku lebih ke selatan dan distrik Bahu Solo adalah yang paling selatan.
Distrik Tombuku, di samping daerah pantainya yang kaya yaitu dari Banggai sampai  tanjung Tapu-uluno tempat negori Faya berada pada saat itu terdiri atas 18 negori dengan 9687 penduduk, yaitu Lanona atau ibukota Tombuku dengan 1438 jiwa, Woso dengan 200 penduduk, Kolono dengan 418 jiwa,  Tanda Olio dengan 83 jiwa, Tondo dengan 76 jiwa, Faya dengan 74 jiwa, Faya dengan 126 jiwa, Beteh-Beteh berpenduduk 28 jiwa, Ambunu dengan 30 jiwa, Bahu Eya dengan 115 jiwa,  Tafaru berpenduduk 518 jiwa, Talabahu dengan 634 jiwa, Tokondidi berpenduduk 170 jiwa, Topogaru dengan 379 jiwa, Tokonuwa berpenduduk 263 jiwa, Tonkala-Teronga-Bahusai berpenduduk 56 jiwa, seluruhnya 5060 jiwa.
Pusat negori Tombuku pada tahun ini dipindahkan dari Lanona ke Sakita, lebih ke selatan di pantai timur. Distrik Bahusolo mencakup bagian pantai selatan kerajaan itu, terbentang dari tanjung Tapu Uluno sampai ke pulau Lambiki (Labenke), tempat Lawui dimulai dan pada tahun 1852 hanya memiliki 5 negori di dataran pantai dengan 423 orang penduduknya, yaitu Matarape (74 jiwa), Bahuinso (53 jiwa), Bahu Solo (136 jiwa), Tomofi (57 jiwa) dan Bilalo (103 jiwa). Yang termasuk distrik ini adalah pulau Manui, yang terletak di sebelah timur kerajaan Lawui, beberapa mil dari daratan. Pulau ini memiliki lebih banyak penduduk daripada distrik Bahu Solo yaitu 1619 jiwa, yang tinggal di 9 negori yaitu Manui (304 jiwa), Tofoni (373 jiwa), Bulele (74 jiwa), Tanah Eteh(84 jiwa), Labota (47 jiwa), Tulang Batu (372 jiwa), Turete (125 jiwa), Minta Sala (180 jiwa), dan Falantea (60 jiwa).
Orang-orang Manui membuat perahu dan paduakang yang baik, yang digunakan untuk sumber kehidupannya. Distrik To Epeh terletak di sebelah barat Bahu Solo, di sebelah barat dan selatan dibatasi oleh Kerajaan Luwu dan di sebelah utara oleh distrik Tombuku dan Kerajaan Mori, dan pada tahun 1852 memiliki 10 negori dengan 2186 jiwa, yaitu Torouta (187 jiwa), Padabahu (204 jiwa), Tafaro (236 jiwa), Tarongtongdua (160 jiwa), Masara (160 jiwa), Topodui (386 jiwa), Tiferano (413 jiwa), Tifijao (140 jiwa), Fatupali (169 jiwa) dan Topodidi (131 penduduk). Distrik Tofi terletak di dekat teluk Tomori, di sebelah utara bergabung dengan distrik Tombuku dan di sebelah selatan dan timur dengan distrik Tomori. Pada tahun 1852 hanya memiliki 3 negori dengan 1115 jiwa, yaitu Tofi (411 jiwa), Tambilalan (480 jiwa) dan Tapada (224 jiwa).
Orang Tomori sejak bertahun-tahun tinggal di distrik ini. Sampai sekarang kekuasaan raja Tombuku yang didukung oleh Sultan Ternate tidak cukup memadai untuk merampas Tofi dari orang-orang Tomori. Daerah To Epeh juga menderita akibat serangan orang-orang Tomori (269), yang pada tahun 1853 menghancurkan lebih banyak negori dan membawa pergi penduduknya. Tanpa bantuan kita di sini, Sultan Ternate juga tidak mampu mempertahankan kekuasaannya. Sementara saya menulis artikel ini, tanggapan diberikan pada rencana yang telah disusun selama beberapa tahun untuk mengirimkan suatu ekspedisi militer ke Bungku, dengan tujuan mempertahankan kekuasaan Tombuku terhadap orang-orang Tomori.
Negori Tombuku berada di bawah sangaji Tombuku tetapi apabila wilayah negori itu luas, seorang pejabat Ternate akan membantu yang tunduk kepada raja mudanya yang ditempatkan di daerah itu. Jumlah penduduk Tombuku di atas (15030 jiwa) sama sekali tidak mengesankan besarnya jumlah penduduk. Dari pedalaman bagian utara Tombuku, jumlah penduduk tidak diketahui dan tidak bisa ditafsirkan. Selain itu pulau Boboni juga dihuni yang tidak saya ketahui jumlah pastinya. Jumlah mereka diduga sangat banyak karena dilaporkan bahwa pulau itu memiliki kekayaan tanaman dan buah-buahan, kerbau dan kambing sementara selanjutnya beras merah dan hitam, rotan dan kelapa juga disetorkan. Juga pulau Lenui (tetapi yang tidak saya sebutkan pada peta – mungkin seperti Manui), menurut Tuan Bosscher dihuni dan menyetorkan hasil-hasil yang sama seperti Boboni.
Penduduk Tombuku di pantai sebagian memeluk Islam, penduduk di pedalaman kebanyakan masih kafir. Mereka tinggal di rumah yang dibangun di atas tonggak tinggi. Di sebagian besar daerah Tombuku, padi ditanam. Juga orang menemukan jagung, katun, tembakau, berbagai ubi, sagu, kelapa dan pisang. Besi berlimpah ruah di distrik To Eppeh dan di kerajaan Luwu yang berbatasan. Di antara orang-orang Tombuku terdapat banyak pandai besi. Orang Bajo menangkap ikan di celah-celah karang kepulauan yang terletak di dekat pantai selatan Tombuku. Untuk setiap perahu yang datang mencari ikan, pajak f 2 dipungut. Tentang sejarah alam pantai timur Sulawesi ini hanya sedikit sekali yang diketahui. Tentang kondisi geologi dan mineralogy juga tidak banyak yang diketahui.
Flora tidak banyak diselidiki dan mengenai fauna hanya diketahui (selain hewan jinak, kerbau, babi, rusa) terdapat hewan menyusui yang juga muncul di tempat lain Sulawesi seperti tonggalong atau timbu, anua atau anonang, babi rusa, dan selanjutnya kera, babi liar, tikus dan sebagainya yang jenis-jenisnya tidak pernah dimuat dalam laporan umum. Ular sawah dan buaya di Tombuku banyak ditemukan. Pembiakan ikan di pantai timur Sulawesi hampir tidak dikenal dan juga  hewan lunak. Tentang informasi yang menyangkut daerah pantai timur Sulawesi, saya harus menunjuk pada karya Tuan van der Hart, Mattijsen dan Bosscher.
Dalam laporan Tuan Bosscher dan Maatijsen, kondisi yang memprihatinkan atas daerah dan penduduk Tombuku dianggap berasal dari kesalahan memerintah oleh raja, dan aktivitas perompakan laut Mangindanau dan Tobelo.  Baik para bangsawan Tombuku maupun Ternate terbukti memiliki hubungan dengan para perompak ini. Utusan bernama Abdul Rahman telah membuat hubungan persahabatan dengan seorang perompak terkenal  Robodoi yang kemudian tunduk kepada kita dan memberikan persembunyian bagi istri dan anak-anaknya di Banggai sementara dia melakukan perompakan di teluk Tomini. Sejak perairan Tombuku dijelajahi oleh kapal-kapal perang uap, para perompak dari sana diusir, dan e dibawa ke Ternate sebagai tawanan, raja Tombuku yang baru diangkat yaitu Kaicil Baba dikukuhkan pada kedudukannya. Kondisi Tombuku dengan ini menjadi jauh lebih baik, tetapi serangan orang-orang Tomori telah membuat sebagian penduduk resah dan ketakutan.
Keadaan Kerajaan Banggai dan Tombuku pada zaman kerajaan Ternate dan Belanda berkaitan erat dengan pembentukan Karesidenan Ternate, pemerintahan dijalankan oleh seorang Residen sementara Sultan Ternate, Tidore dan Bacan menjalankan kekuasaan atas kerajaan mereka.  Traktat yang dibuat dengan mereka pada tanggal 27 Mei 1814 dan 27 September 1826 menunjukkan tindakan raja-raja yang harus tunduk pada kekuasaan Belanda. Intervensi pemerintah Belanda dalam urusan kerajaannya hanya terbatas pada beberapa hal, seperti persetujuan atas vonis kasus pidana dan pengangkatan para kepala di berbagai daerah taklukkan kerajaannya.[15]
            Ketika ketidakpatuhan dan pembangkangan rakyat disebabkan pada tindakan serius, pemerintah Belanda yang tidak sungguh-sungguh memberikan bantuan. Tetapi yang lebih menyolok adalah bahwa hanya kerajaan Ternate yang membutuhkan dan meminta bantuan Belanda. misalnya pada tahun 1848 penduduk pulau Makian mengobarkan perlawanan kepada Sultan dan tidak bersedia mengakui kekuasaan para kepala yang diangkat oleh residen. Setelah peringatan sia-sia, dengan kapal perang dan sejumlah besar pasukan bersenjata memaksa penduduk  tunduk, akhirnya beberapa saat, ketenangan dipulihkan di sana.
            Di pantai timur Sulawesi sengketa serius sering terjadi di antara penduduk Tombuku dan Tomori. Pada tahun 1853 para kepala adat Tombuku menyampaikan keluhan serius kepada asisten residen Bosscher pada kesempatan kunjungannya ke sana, tentang tindak kekerasan orang-orang Tomori, yang menghancurkan berbagai negori di distrik To Eppe dan membawa pergi penduduknya. Asisten Residen Bosscher yang ingin menyelesaikan sengketa itu mencoba untuk mengundang para kepala adat Tomori agar berkumpul di Tombuku, tetapi tidak seorangpun yang diserahi sebagai utusan datang ke sana, kecuali dengan pengawalan orang-orang bersenjata yang diperlukan sebagai penunjuk jalan. Pemerintah yang mengetahui persoalan ini memberikan wewenang untuk mengirimkan sebuah kapal perang yang diperkuat dengan pasukan garnisun Ternate menuju teluk Tomori, dengan tujuan mengirimkan seorang pejabat ke sana untuk menyelesaikan sengketa antara Tomori dan Tombuku, melalui kesepakatan dengan perwira pemimpin kapal perang itu dan sesuai instruksi yang diberikan oleh Gubernur Maluku kepadanya, lebih baik lewat jalur perundingan daripada dengan kekerasan untuk mengambil keputusan dan mengakhiri permusuhan yang ada di antara keduanya. Tetapi semua ini harus dilakukan dengan pengertian bahwa kekuatan pasukan tidak melebihi dari 1/3 jumlah kesatuan yang ada. Oleh penguasa Ternate kekhawatiran dilontarkan tentang tidak memadainya kesatuan yang tersedia dengan jumlah tidak lebih dari 55 orang, dan menunjuk pada kesulitan yang ditimbulkan oleh kondisi lahan bagi ekspedisi di musim hujan. Untuk itu ekspedisi tidak dilakukan sementara sengketa masih terus berlangsung dan tidak ada keputusan yang bisa diambil.
Di kepulauan Banggai raja menjalankan kekuasaan; raja ini adalah seorang pinjaman dari pemerintah Belanda, atau pinjaman dari Sultan. Traktat yang dibuat dengannya menunjukkan kewajiban-kewajibannya. Terutama perjanjian itu memuat pengakuan terhadap kekuasaan pemerintah Belanda, janji untuk memerintah dengan baik, mencegah perampokan, memajukan perdagangan dan pertanian, mencegah perdagangan budak, membantu awak kapal yang kandas, dan sebagainya. Raja dalam pemerintahannya dibantu oleh seorang jogugu, kapitan laut dan beberapa bangsawan rendahan. Atas dasar yang sama kekuasaan di kerajaan Tombuku juga dijalankan oleh seorang raja. Suatu sketsa tentang Kerajaan Banggai dan Bungku dibuat dalam TBG, tahun I, jilid VII dan VIII. [16]
Perlawanan di daerah Banggai dan Bungku dipadamkan oleh tentara Sultan Ternate sendiri. Pada tahun 1828 raja Banggai mengusir utusan Sultan Ternate dan melarikan diri ke desa Mendono. Tetapi dia tidak diikuti oleh pengawalnya. Bujukan dari orang-orang Bugis terutama Daeng Mangajai membuat dia melakukan perlawanan. Raja kemudian ditangkap dan dikirim ke Ternate. Pemberontakan terakhir di Banggai terjadi pada tahun 1846; tanpa banyak perlawanan, ketenangan dipulihkan oleh Sultan.
            Pada tahun 1848 penduduk  Makian juga memberontak terhadap kekuasaan Sultan; menolak mengakui kekuasaan para bangsawan rendahan dan melakukan kerja yang dituntut. Sejumlah pasukan Sultan yang dibantu oleh anggota pertahanan sipil dan kapal perang Zwaluw diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan menangkap para terdakwa yang berhasil sesuai dengan keinginan. Pada tahun 1855 bantuan dari kapal uap kerajaan Vesuvius diminta untuk menghukum negori Tobelo yang menjadi tempat persembunyian kepala perompak Laba. Pada tahun 1856 ekspedisi kapal perang Vesuvius dan Celebes, di bawah komando Letnan laut klas-1 J.A. Uhlenbeck dan J.E. de Man dengan 150 tentara yang diperkuat oleh 700 orang Alfur untuk memperkuat hak-hak Sultan mendarat di pantai timur Sulawesi, di mana penduduk Tomori yang merdeka berulang kali melancarkan serangan terhadap Kerajaan Tombuku.[17]
            Kapal Hindia Belanda Blora yang mengangkut perbekalan dan perlengkapan yang diperlukan bagi ekspedisi  berangkat dari Ambon menuju Tombuku tetapi terdampar di batuan karang teluk Banggai. Gubernur Kepulauan Maluku C.F. Goldman memimpin sendiri ekspedisi ini. Komando militer diserahkan kepada Mayor infanteri E.C.F. Happe. Di tempat ini orang-orang Tomori melancarkan serangan, yaitu di sepanjang aliran sungai Tompira. Perundingan diusahakan dengan para makole, pemimpin Tomori.  Kelompok pimpinan pribumi yang diserahi dengan tugas itu disambut dengan tembakan gencar oleh musuh dan tidak bisa menjalin hubungan yang diharapkan dengan mereka. Melalui hutan Tompira sebuah jalan setapak kecil diikuti, yang ditanami dengan ranjau. Di tempat itu rombongan bergerak sejauh 11 kilometer tanpa menemui sesuatu sampai sungai Marokopo. Dari Marokopo beberapa orang Alfur berhasil menjangkau kampung Usondao, benteng pertama yang terletak beberapa paal di bukit di lahan terbuka dan di sana melihat banyak orang.
            Kapten infanteri van Oyen menduduki posisi di Tompira dan membangun kubu pertahanan di sana, menempatkan suatu kesatuan militer sebanyak 150 orang di bawah Letnan Henner, di samping Letnan von Dentz dan Letnan Laut de Stuers untuk mengukur sungai dan memetakannya. Di sepanjang sungai itu jalan dibuka selebar 2 m dengan panjang 9 kilometer . Pada tanggal 20 Juni Kapten van Oyen dikirim ke Usondao dengan 80 serdadu di bawah perintah Letnan van Thiel dan Henner, dan 250 orang Alfur di bawah perintah Letnan von Dentsch. Pada pukul 5 sore Usondao dicapai. Pertahanan ini terdiri atas timbunan batuan karang dan dinding tegak lurus hampir 1100 kaki tingginya, yang di puncaknya terdapat sejumlah rumah. Orang-orang pribumi yang dikirim kembali dengan berita bahwa musuh tidak mau berunding dan akan bertahan sampai tetes darah terakhir. Setelah melakukan beberapa gerakan, pada tanggal 22 Juni pukul 7 sampai 9 pagi Usondao ditembaki dengan mortar tangan di bawah pimpinan Letnan Jansen tanpa banyak yang dilakukan. Benteng itu diserang dari dua sisi di bawah Letnan van Thiell, de Graaff dan Henner dengan tujuan menguasai jalan keluar di bawah, dan mendaki benteng itu. Pasukan kemudian diperkuat oleh Letnan Musch dengan tembakan meriam dan Letnan laut de Stuers dengan kesatuan orang pribumi. Posisi itu tampaknya tidak bisa dipertahankan. Sampai pukul 4 sore serangan berlangsung. Seorang serdadu terbunuh dan beberapa orang terluka. Saat itu tindakan dirancang untuk melempari benteng dengan granat dan mengepung dengan ketat tempat itu, tetapi sebuah bendera putih segera dikibarkan dari Usondao. Menjelang petang turun, bendera Belanda sudah dikibarkan di benteng tersebut. Sangaji Tomori bersama enam orang panglimanya turun, semuanya tidak bersenjata dan menawarkan bentuk penyerahan yang terdiri atas seekor ayam putih, sebuah telor ayam dan sebuah kotak sirih dari tembaga yang dibungkus dengan sebuah kain putih. Mereka menyampaikan bahwa Usondao merupakan benteng terkuat yang dianggap tidak mungkin tembus. Orang-orang Tomori melarikan diri ke Pohontana dan Fofonsia, Fofontuku dan Patasea dikosongkan. Usondao dipertahankan oleh 60 orang dari Tamaiki dan Fofatu; mereka menderita empat orang terbunuh. Anak-anak dan kaum wanita dibawa keluar Tomori karena takut pada pembalasan makole atas penyerahan Usondao.[18]
            Pada tahun 1859 terbukti bahwa dalam suatu kunjungan residen Ternate ke Tomori, ekspedisi ini menciptakan kesan bahwa Sultan tidak mampu mengatasi pembontakan tanpa bantuan pemerintah Belanda, sehingga setelah Sultan meninggal sering terjadi perlawan terhadap kerajaan Ternate, suasana menjadi tidak aman dan rakyat selalu meminta pemerintah untuk membantu kekuasaan penguasa pribumi yang lemah.
Peristiwa yang dikemukakan atas menunjukan bahwa penaklukan kerajaan Ternate terhadap kerajaan Banggai dan Tombuku, mendatangkan kekacauan saja karena sultan Ternate dalam mengatasi perlawanan penduduk menggunakan bajak laut (Hongi) dan kalau tidak bias maka, meminta bantuan tentara Belanda, akhirnya Belnda yang berkuasa dan menjajah daerah taklukan Ternate.
Mengenai kerajaan Banggai dan taklukannya di daerah di beberapa kepulauan, secara keseluruhan  tidak diketahui batas wilayahnya menurut Bosscher dan Mathijssen, kepulauan ini terletak antara 1o dan 2o Lintang Selatan dan 122o52’ dan 124o26’ Bujur Timur, tetapi pada peta sketsa terlampir letak pulau-pulau terluar lebih ke barat dan selatan, sehingga suatu pengukuran atas pulau-pulau ini sangat diperlukan. Sketsa ini juga dilampirkan untuk memberikan gambaran tentang daerah kekuasaan Banggai, dan juga sejauh mungkin menunjukkan di mana kampung-kampung terpenting berada.
            Empat pulau terpenting adalah Banggai, Labobo, Bangkulu dan Peleng (Peleng di kalangan rakyat tidak disebut sebagai Gape seperti yang disebut dalam De Hollander, II) Para pedagang menyebutnya Pulau Tengah karena berada di antara Banggai dan daratan Sulawesi. Nama itu mungkin merujuk pada Duitanga yang berasal dari Riedel), semuanya berpenghuni dan dikelilingi oleh sejumlah pulau kecil di mana penduduknya pergi mencari ikan dan membakar garam, atau beberapa membuka kebun kecil sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
            Pulau-pulau yang termasuk Banggai adalah Baluka, Bakakang, Togong Akat (Togong di daerah ini berarti pulau. Orang pribumi menulisnya togon tetapi dengan huruf Melayu), Togong Totolu, Sausar, Togong Potil, Taulang, Sauli, Pandoboboi, Molilis, Kambungan, Tibalat, Pufat, Tatapon, Buong-Buong, Timpaus dan Masuni (melalui perbandingan nama-nama antara Bosscher-Mathiijssen dan para perwira lainnya yang disebutkan oleh De Hollander dalam sebuah catatan, yang terakhir adalah yang paling dekat.
            Di bawah Labobo terdapat pulau Malambulang atau Paidal, Saibumanuk, Tombak Pauno dan Pulo Tombak. Yang termasuk Bangkulu adalah pulau-pulau Lamunan, Linsawak, Togong Pilogot, Masibubu,Totoubek, Tambatun, Teluk Bulu, Sagu, Mandibolu, Tonuan, dan Togong Bajoko. Sementara untuk Seasea di sebelah barat Peleng termasuk  pulau Dilepaan, Togong Badaang, Susun Puong dan Mengkule.
            Thiele menyebutkan bahwa kepulauan Banggai pada tahun 1532 dikunjungi oleh Urdanete dan raja tinggal di pulau Bonggaya tetapi juga menguasai pulau Peleng dan pulau-pulau lainnya. Valentijn menguraikan panjang lebar sebagai berikut:”Pulau Banggai mungkin dengan pulau-pulau lain yang terletak di dekatnya, pada tahun 1580 ditaklukkan oleh raja Babu. Dalam pemberontakan Saidi raja ini dijatuhkan, tetapi pada tahun 1655 oleh Tuan de Vlamming direbut kembali seperti yang akan kita lihat lebih lanjut di bawah ini.
            Di pulau Banggai pada tahun 1680 Kalkebolang dipilih sebagai raja oleh Vaandrig Haak atas nama Kompeni dan raja Ternate (melalui kekuasaan kita) dan dilantik di sana untuk menggantikan raja Jangkal”.  Pada tahun 1655 penguasa Banggai adalah orang Makasar, bergelar  jogugu Duwani dan laksamana Colofino (yang sejak bulan Oktober memimpin armada raja itu) kembali menempatkan daerah tersebut di bawah Ternate. Juga perdana menteri Mandarsyah, Duwani, tidak bisa mengikuti rajanya karena angin kencang dan gelombang, mendarat di Banggai di mana dia menghancurkan semua yang ada dan mengusir penduduknya. Selanjutnya dia memutuskan untuk pergi menghadap rajanya sejauh mampu dilakukan. Tetapi karena penyakit dan cuaca buruk banyak anak buahnya yang mati, diapun meninggal di sana”.
            Pada tahun melalui perjanjian kepulauan Banggai pada tanggal 26 Januari 1689 dan 9 November 1741  yakni selama pemerintahan raja Kaicil Kubu Kubulang dan Kalsum Subaltern Banggai di bawah kekuasaan Kompeni; sementara pada tahun 1773 dengan tampilnya Kaicil Bandaria kontrak diperbaharui.  Pada tahun 1782 diam-diam Bandaria berangkat ke Batavia di mana Kompeni mengirimkannya kembali ke Ternate (yang dicapainya pada tahun 1784),  dengan perintah  untuk  mengangkatnya kembali yang juga disertai dengan pembuatan kontrak baru pada tanggal 5 Maret 1796.  Kontrak terakhir dibuat pada tanggal 5 April 1808 dan diberlakukan juga bagi para penggantinya.
Baru setelah pelarian Raja Agama pada tahun 1847, pada tanggal 24 Oktober 1852 kontrak baru dibuat dengan raja Kaicil Tatutonga yang naik tahta dan disetujui oleh keputusan pemerintah tanggal 2 Oktober 1853. . Raja ini wafat pada tahun 1856 dan pada tanggal 23 Desember 1858 sebagai penggantinya diangkat Kaicil Sowak yang pada tanggal 31 Desember tahun itu membuat sebuah kontrak, pada tanggal 7 Januari 1859 diubah dengan keputusan tanggal 27 Oktober disahkan oleh pemerintah, dengan ketentuan bahwa terutama akta pengukuhan akan diberikan yang memuat pengakuan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Setelah kematian Suwak, jogugu Kaicil Nang putra jogugu Kaicil Tatutonga  diangkat menjadi raja pada bulan Desember 1870 dan akta yang dibuat dengannya disahkan dengan keputusan pemerintah tanggal 2 Juli 1872 ; Dia wafat pada tahun 1880 dan digantikan pada tanggal 6 Mei 1882 oleh raja Kaicil Tatu, putra Kaicil Suwak, yang bekerja sebagai Katib (juru tulis).
            Dalam kekosongannya, oleh para kepala tiga orang calon diajukan kepada Sultan, yang olehnya akan dibuat suatu pilihan dan disetujui oleh residen dan pemerintah Hindia Belanda sebagai penguasa tertinggi. Dia yang dipilih akan mengambil sumpah setia dan membuat akta pengukuhan yang disetujui sesuai formulir yang telah ditetapkan. Kesulitan menempuh perjalanan jarak jauh ke Ternate mengakibatkan banyak waktu terbuang dan selama beberapa tahun tetap tidak terisi. Tetapi apa yang terjadi tidak menimbulkan gangguan dan kini tidak lagi bisa dicegah dengan penempatan posthouder (petugas Belanda yang bekerja mendampingi raja dalam melaksanakan tugas, mengatus sesgala sesuatu yang dikerajakan raja dalam menjalankan pemerintahan).
            Ibukota Banggai tempat raja dan juga posthouder berada, terletak di pulau Banggai pada sebuah teluk yang luas dan terkesan memprihatinkan. Rumah-rumahnya berada di tengah pepohonan dan hutan belukar yang terletak di sepanjang pantai terbuat dari bahan-bahan ringan, sebagian dibangun di atas tonggak dan yang lain di atas tanah datar, kurang terawat dan dihubungkan dengan jalan setapak yang ditumbuhi dengan tanaman sulur, dengan beberapa bambu dan tidak tenggelam dalam lumpur yang terdiri atas tanah berawa. Kadatu yang dibangun di atas sebuah tanah tinggi oleh salah seorang raja sebelumnya yang mengikuti perintah Sultan Ternate ;  tampak jelas dari laut, tampaknya oleh raja sekarang ini tidak direncanakan untuk dihuni sekali lagi. Dia tinggal di rumah lain dengan beranda lebih luas sehingga para pengunjung dan para kepala suku serta pengikutnya bisa diterima dengan baik, tetapi selain itu pemandangannya sangat rapuh dan semua tanda-tanda keruntuhannya mulai tampak. Sebagai keunikan adalah sebuah reruntuhan benteng dan kampung Kota Cina yang terletak di dekatnya, terdiri atas beberapa reruntuhan tembok di sana-sini, di dalamnya terdapat sejumlah rumah pribumi milik para bangsawan Ternate, sejumlah lila(tombak) dan meriam lain juga diletakkan di sana.
            Mesjid menjulang sangat tinggi jauh di atas rumah, tetapi tidak merata. Pohon kelapa menjulang tinggi di mana-mana tetapi tidak ada buahnya. Di sana ditemukan enam kampung yaitu kampung Raja (Banggai), Kota Cina, Tanah Bonua, Gonggong, Dodung dan Monsongan (Bosscher dan Mathijsen masih melaporkan kampung Soasia sebagai akibat dari kesalahan menduga dalam arti kata itu. Bon Tange mereka didengar sebagai Moisongan, dan lima kampung terakhir tidak ada pada mereka yang menjelaskan perbedaan dalam jumlah penduduk) bersama-sama dengan 1500 jiwa yang menghuni 300 rumah. Sementara itu di berbagai tempat di pedalaman masih ada lima kampung lagi yang dijumpai yang dikenal dengan nama Putar, Boneaka, Lampa, Paupau Banggai dan Tanotuu’ dengan kira-kira 400 jiwa, yang semuanya memeluk Islam terkecuali penduduk kampung terakhir dari negori Alfur Liang dan Bulagi di pulau Peleng.
            Para kepala kampung ini menyandang gelar sangaji dan Jimalaha tetapi selain itu masih ada pimpinan lain yaitu seorang jogugu. Para kepala kampung langsung berada di bawah raja dan bersama jogugu, kapitan laut dan utusan Belanda atas nama Sultan Ternate membentuk sejenis dewan di bawah pimpinannya di mana semua persoalan yang menyangkut pemerintahan dibicarakan dan  persoalan kecil diselesaikan. Raja biasanya mengangkat mereka seumur hidupnya, tetapi mereka tidak mempunyai penghasilan tetap, tergantung pada hasil pemungutan pajak yang kadang-kadang sangat sulit dilakukan karena sifat mengembara orang-orang Alfur (rakyat yang selalu berpindah tempat). Jika orang-orang Alfur melakukan perlawanan, maka mereka melarikan diri dan bersama keluarganya ke dalam hutan Sulawesi yang sulit dimasuki.
            Pulau Labobo dan Bangkulu (Bangkurung) masing-masing memiliki 100 penduduk, sebagian terdiri atas orang Islam dan sebagian lagi orang kafir Alfur yang dipimpin oleh seorang Kapitan, yang tunduk kepada raja. Peleng yang terletak antara Sulawesi dan Halmahera, memiliki lahan berbukit yang membentang hampir di sepanjang pantai dengan bentuk alluvial. Secara keseluruhan ada 16 kampung yakni:
  1. Seasea,
  2. Bolagi,
  3. Pelei dengan Nandang,
  4. Paisulunu,
  5. Tinangkung dengan Mansama,
  6. Popisi,
  7. Tatikon,
  8. Sambiut,
  9. Kabontokan, Ponding-Ponding,
  10. Tatakalai,
  11. Bonitom,
  12. Liang dengan Tanotuu,
  13. Apal,
  14. Lolantang,
  15. Leuk dengan Peleng
Kampung tersebut  dihuni oleh 3 ribu jiwa dan bersama mereka paling banyak terdapat 200 orang Alfur. Dari kampung-kampung ini, Kampung Seasea adalah yang paling utama karena sangaji kampung ini dianggap sebagai yang pertama di antara para sangaji lainnya, yang mendominasi semenanjung paling selatan. Di sini lahan berbukit perlahan-lahan menanjak sampai ketinggian 1000-1500 kaki, yang umumnya disebut Gunung Seasea dan dari laut puncaknya bisa terlihat dan digunakan untuk mendirikan sayafu. Sementara itu di dekat laut sero-sero ditempatkan untuk menangkap ikan, yang ditempat lain dilakukan dengan buluh dalam bentuk yang mirip dengan buluh besar di Makian. Di bawah sangaji masih ada beberapa pimpinan lain yang bekerja dengan istilah tonggol dan kapita[19].
            Penduduk dibagi di antara umat Islam yang tinggal di pantai dan suku Alfur yang berada di hutan atau kebun; selain agama dan hal-hal yang berkaitan dengannya, hanya ada sedikit perbedaan dalam bahasa, cara hidup atau kebiasaan (kata-kata hampir mirip dengan penduduk pantai seperti meeng, luwa, tolu, sangkap, lima, nom, pitu, pitu rupia, sio dan songolu; sementara orang Alfur hanya menggunakan sanggap untuk empat dan walu untuk delapan. Karena baik bahasa ini maupun bahasa Tobungku tidak banyak dikenal, batas yang ditunjukkan oleh Brandes untuk rumpun bahasa Polinesia tidak mengandung banyak kebenaran.
Suku Alfur di Peleng dan Banggai berjumlah 10 ribu jiwa karena menurut keterangan para kepala adat jumlah mereka tidak kecil, namun telah kehilangan penampilan aslinya yang kuat di pulau-pulau lain dan lebih mirip dengan tipe Makasar, yang karena cepat atau lambat mengalami percampuran atau di masa lalu telah pindah dari daratan Sulawesi ke  pulau-pulau ini. Kaum wanitanya berperawakan kecil dan tidak menunjukkan sifat kecantikan. Mereka sangat penakut dan dengan mendekatnya orang pribumi asing mereka segera melarikan diri. Di dalam hutan mereka mengikatkan kain katun di pinggulnya, tetapi ketika turun ke pantai mereka mengenakan sejenis celana pendek, yang menjangkau sampai di atas lutut dan mengenakan ikat kepala.
            Makanan utama mereka terdiri atas ubi, bête, sayawu atau sejenis buncis hijau (sayawu adalah istilah Maluku untuk ketela yang bisa dimakan), pisang dan kadang-kadang nasi yang dimakan bersama ikan yang berlimpah dari laut. Sementara itu babi liar yang mereka buru dengan anjing dan ditikam dengan lembing atau panah, memberikan daging yang berlebihan. Sesuai dengan lauk pauk atau karena didorong oleh rasa lapar, mereka makan tiga sampai empat kali sehari, tetapi juga bisa kurang.
            Mereka tidak mengenal garam, tetapi dalam mengolak lauk air minum dicampur dengan air laut yang selalu terjadi, karena orang menduga bahwa penggunaan air tawar saja akan mendatangkan sakit perut. Saguwer diperoleh dari pohon kelapa yang dikupas dengan cara berikut ini dan setelah itu kuncup bunganya dipotong; dari minuman ini orang bisa menggunakannya untuk diminum di tempat lain di bagian timur kepulauan Hindia. Pembelian sagu sangat sedikit. Ketika dibeli dari pedagang, sagu digunakan dalam bentuk lempeng atau bubur. Rumah mereka dibangun di atas tonggak, kadang-kadang dari kayu tetapi kebanyakan dengan dinding bambu atau gabah-gabah dan ditutup dengan atap daun. Sebagai tempat tidur atau dapur, diperlukan ruang khusus yang dipisahkan dengan penyekat tipis dari beranda oleh mereka.
            Panah dan busur tidak mereka kenal; hanya tombak dan kelewang yang dibawa dari Tobungku dan jenis bakoko kecil atau yang disebut tolalaki. Perangkat musik terbatas pada tifa, rebab dan suling di samping sebuah perangkat khusus yang disebut tulalo yang terbuat dari kayu lenggua dengan sebuah benang tembaga yang direntangkan yang dengan sebuah jarum, yang dipasang pada ujung telunjuk dalam cincin rotan kecil dan digerakkan dengan bergetar. Potongan kayu ini bertumpu pada sebuah tabung bambu  di atas dua potongan tempurung kelapa yang tidak sama, dengan bagian terbesar ditekankan pada bagian dada. Instrument ini terutama perlu digunakan sebagai iringan lagu.
            Sketsa yang kurang menguntungkan tentang suku Alfur dalam sejumlah artikel majalah, yang pasti tidak berlebihan ditunjukkan, dan meskipun tidak tepat dugaan yang dilontarkan tampak seolah-olah mereka tidak mengenal hubungan atau perkawinan kerabat. Van Musschenbroek membenarkan dalam penelitiannya bahwa mereka memiliki seorang istri yang diperoleh dengan pembayaran mas kawin menurut model Polinesia; sengketa rumah tangga tidak diselesaikan dengan permusuhan atau pembunuhan, mereka menuruti kehendak kepala sukunya.  Mereka tidak mengenal perjudian, kalau pun ada hanya berlaku pada para bangsawan pribumi di mana permainan ving-et-tun adalah jenis yang paling disukai.
            Mereka (orang Alfur)  hanya percaya kepada roh jahat dan baik, dan untuk menyenangkannya atau setidaknya membebaskan dari ancamannya, di depan pintu atau di kebun atau di tempat-tempat tertentu, dalam bentuk altar dari kayu sebuah sesaji dipasang yang disebut pilogot, dan yang juga disebut sebuah pulau, yang akan menyesatkan bagi roh-roh di tempat itu. Kematian hewan seperti babi, ayam, kambing, anjing mereka anggap sebagai kesempatan yang cocok untuk menggambarkan masa depan dari letak mayat atau jejaknya. Terutama ini terjadi pada orang sakit meskipun daya sembuh tanaman sudah sangat terkenal. Jenazah yang mati dimakamkan  di depan rumah atau di dalam hutan; terutama setelah kepada sisakit ditanya apakah dirinya mau memilih makamnya karena pesan itu harus diperhatikan secara cermat. Mereka percaya bahwa tanah di atas punggung kerbau merupakan bentuk ketenangan dan menyatakan gempa bumi (yang disebut manombol) disebabkan oleh gigitan seekor nyamuk, atau hukuman roh jahat karena melakukan tindakan buruk.
            Mengenai orang-orang Bajo semuanya tinggal di Kalombatan di pantai timur Peleng dan berada di bawah pimpinan mereka yang disebut punggawa; bagi penangkapan ikan bebas di perairan Banggai, mereka wajib membayarkan upeti sebesar 4 (Hulden) kepada sultan. Jumlah jiwa mereka berkisar antara 30 sampai 40 orang dan mereka melakukan perjalanan sepanjang pantai Sulawesi sampai kepulauan Togean.
Bagian yang berada di Banggai di bawah raja Banggai mencakup 11 distrik atau kampung bersama tanah-tanahnya yang ada, dengan Tanjung Api yang menjadi batas paling utara dan Togong Teong yang menjadi batas paling selatan. Distrik tersebut adalah:
1.    Batui,
2.    Tangkiang,
3.    Sinorang
4.        Kintom
5.        Mandono
6.        Lontiok
7.        Nambo
8.        Luuk (luwuk) dengan Biak
9.        Basama,
10.    Lamala dan
11.    Pokomondolong.
Ketiganya dikenal dengan nama umum. Balantak, memiliki negeri yang terletak di pantai utara semenanjung seperti Pati-Pati dan Saluan, di bawah Mandono dan Boalemo di bawah Mandono, Kintom dan Tangkiang.  Hanya di Mandono seorang utusan Sultan ditempatkan.  Kepala kampung disebut sangaji, dengan para wakil kepala yang disebut kapitan dan danganyo. Penduduk pantai semuanya Islam kecuali di Kentong di mana beberapa orang Alfur tinggal.  Mereka berjumlah kira-kira 3 ribu orang. Tetapi tentang penduduk gunung jumlahnya hanya diperkirakan saja.  Kota dagang utama adalah Pokomondolong atau Balantak,  di daerah Nambo ditanam yang digunakan untuk menenun sarung, meskipun kain Eropa dianggap lebih sesuai untuk itu. Perahu dagang pribumi jarang muncul; perahu itu hanya berlayar ke Pokomondolong. Valentijn yang waktu berkunjung ke di Balanta (Balantak) memberikan kesaksian bahwa banyak padi dan beras yang dihasilkan dan juga ditanam di Mandono yang sangat subur), di mana banyak beras dengan harga rata-rata f 4 diekspor ke Gorontalo. Gorontalo dikenal dengan tembakaunya yang baik yang diikat per setengah kati, per vadem biasanya dijual seharga f 0,50.  Daerah Mendono ini juga merupakan satu-satunya tempat pohon sagu tumbuh dengan subur dan bisa dikatakan sebagai lumbung padi untuk seluruh Banggai. Di kepulauan Banggai dikenal dengan kekayaan jenis kayu  termasuk kayu cendana (yang dalam bahasa Banggai disebut mopook) yang menduduki posisi penting dalam perdagangan kayu; Sementara itu di sebuah tempat yang disebut Mambulusan, termasuk di Liang dan Peleng dengan kedalaman 4-5 vadem mika orang bisa menggali tanah dan dari dalam tanah di orang bias mengambil tanah untuk melapisi dinding luar luar rumah dan menggunakannya seperti hiasan (mika dalam bahasa Melayu sering disebut sebagai batu Banggai dan di Ternate disebut mare gapi. (Matthes menulis potongan mika sebagai sejenis kerang yang tidak ada kaitannya).
Komoditi ekspor Banggai lain adalah damar seharga f 10-15 per pikul; jenis rotan tipis, lilin, terutama dari Batui dan Kintom yang berharga f 80 per pikul (dari seluruh produksi ini, lilin yang berjumlah 30 pikul disetorkan kepada Sultan sebanyak 1/8 bagian); kopi yang ditanam di perbukitan Peleng; sejumlah kecil sarang burung di pulau Salui dan muskus atau timpaus  (berasal dari testes  tinggalu; desdes yang tidak begitu keras. Di beberapa tempat di Hindia tampaknya bahan pembakaran aroma ini sudah dikenal),  dalam potongan kecil kalau dijual f 10 harganya.               Uang baru tidak begitu disukai; masih ada duit tembaga tua yang terdiri atas 120 keping untuk satu gulden dan di pedalaman Sulawesi masih ada uang recehan dengan satuan 360 untuk satu gulden. Di samping real empat suku 40 sen, real Makasar memiliki nilai permanen f 2.
Sebagian besar perdagangan barter berlaku dengan kain, seperti kain blacu dan sebagainya. Kuda-kuda dan sapi hutan di Sulawesi, selanjutnya tinggalu, ular air dan berbagai jenis burung bagi orang Islam dan Alfur merupakan jenis bahan pangan yang disukai. Orang Bajo suka berburu hiu di mana mereka memakan dagingnya dan membuang moncongnya yang mirip gergaji. Mereka juga berburu tripang dan kura-kura pada kedalaman air 10 vadem(meter); tombak kecil mereka sebut sosowat dan yang besar disebut kalai.
            Perdagangan budak sama sekali berhenti dengan pembebasan tahun 1879. Bila masih ada orang yang melakukannya, terdakwa diajukan ke depan pengadilan kerajaan Ternate dan menerima hukuman berat. Di pantai pengawalnya siap menyambut kita dan melalui pukulan cambuk mengiringi perjalanan kita bersama prajurit yang memakai perisai melewati pintu gerbang yang sudah runtuh menuju benteng, yang dikelilingi dengan pagar kayu, berada dalam kondisi sangat rapuh dan para bangsawan tinggal di dalamnya (yang menarik adalah sejumlah  lila dan rantaka besar yang tersebar di sana di atas tanah dan yang di masa perompakan digunakan untuk mempersenjatai kapal-kapal dagang).
            Sebagai ilustrasi ada pengalaman menarik yang digambarkan P. van der Crab, saat bermusyawarah di dengan raja Banggai sebagai berikut; dengan bergerak kea rah selatan di sepanjang jembatan bambu  melalui hutan sagu berawa, kami mencapai rumah raja. Kami diminta duduk di beranda dalam yang dengan ditutup korden suasana menjadi gelap, sehingga pada siang hari pukul setengah tiga sejumlah lampu harus dinyalakan sebagai penerangan. Oleh seorang bangsawan yang ikut, surat Sultan diberikan yang diletakkan di atas nampan daun dan diedarkan sementara raja dan semua bangsawan yang hadir memberikan penghormatannya, dengan menciumnya terlebih dahulu dan menempelkannya di dahi. Seorang katib mendekat untuk membacakan isinya. Orang itu sudah terlalu tua dan memerlukan banyak waktu untuk membukanya sebelum kacamatanya dipasangkan oleh salah seorang pengikutnya. Karena tidak disinggung tentang sesuatu yang penting, berita itu dibacakan dengan tenang. Ada rokok yang diedarkan, masalah khusus dibicarakan dan informasi penting disampaikan sehingga beberapa orang yang berkumpul segera merasa nyaman. Usul untuk meninjau negori itu diterima dan segera rombongan besar memenuhi jalanan. Yang menarik adalah tiga kampung besar. Semuanya terletak di sepanjang pantai, dengan kampung paling utara yang disebut kampung Bajo meskipun tidak ada orang Bajo tinggal, yang tengah dengan rumah raja disebut Sakita dan yang paling selatan adalah Tobungku. Ada perdagangan yang hidup dengan orang-orang Cina dari Makasar dan orang-orang Bugis dari Kendari dan dari tempat lain yang termasuk wilayah Celebes dan Sekitarnya (dalam artikel majalah tersebut, perdagangan di Tobungku dalam arti kata yang sebenarnya dianggap tidak berarti), jadi sejak itu telah terjadi perubahan atau sesuai dengan perkembangan zaman. begitu juga perdagangan seperti yang dikatakan di sana sepenuhnya merupakan monopoli raja-raja yang kekuasaannya terlalu kecil dan bisa dikatakan tidak ada atas orang-orang Alfur di pedalaman. Juga Revius berkata bahwa elit penguasa kerajaan masih mengelola perdagangan dengan orang Makasar, orang Bugis, orang Mandar dan bagian lain dari kepulauan Hindia yang telah berlangsung berabad-abad karena menurut Valentijn “mereka telah memiliki hubungan dagang dengan para pedagang asing dan para pelaut Bugis, yang banyak tinggal di sungai Lahan di sebelah utara Tombuku untuk mengangkut karet dan barang-barang terlarang lainnya dari sana”). Ada pedagang Arab yang gudangnya dipenuhi dengan damar dan rotan yang dibawa oleh orang-orang Alfur dari pedalaman ke pantai, dan seorang Cina yang memiliki sebuah toko besar dengan ditutup atap dari seng. Sejumlah paduakang ditambatkan di pantai untuk menunggu muatan atau memulai perjalanan ke selatan. Yang lain masih setengah jadi dan seluruhnya menciptakan kesan kemakmuran. Pria dan wanita mengenakan busana yang baik sepanjang hari dan kebebasan bergaul dengan orang-orang asing menciptakan kesan yang jelas.
            Orang menafsirkan jumlah penduduk antara pada saat itu berjumlah 1200-1500 jiwa, semuanya Islam tetapi yang tidak selalu mematuhi kewajiban agamanya, meskipun mesjid merupakan bangunan yang sangat besar, terbuat dari batu dan dilapisi dengan lantai ubin, yang dibangun melalui sumbangan di bawah pimpinan sejumlah ulama dalam waktu singkat. Rumah-rumah semua berdiri di atas tonggak kira-kira  2 meter tingginya di atas tanah dan terbuat dari material ringan, sementara sebuah tangga bambu memberikan jalan masuk. Pekarangan kebanyakan dipagari dan juga dengan pagar hidup, pekarangan dipisahkan dari jalan selebar satu vadem. Tempat memasak (138) yang bisa dikenali melalui batu-batuan yang tertutup oleh abu, berada di dalam rumah dan seperti halnya tempat tidur penghuninya berada di ruangan terpisah. Sebuah ruang lebih besar digunakan sebagai ruang tamu dan ruang kerja di mana peralatan untuk menangkap ikan (jala lempar dan jala tarik) dibuat, kain ditenun dan produk ditimbun (kain Tobungku yang ditenun sendiri sangat kasar, tetapi karena ketahanannya sangat disukai oleh orang-orang Alfur. Harganya adalah f 4 per potong dan warnanya biru atau hitam). Selain lobang pintu masih ada jendela atau lobang bambu yang memungkinkan udara dan cahaya untuk masuk. Di beberapa rumah kita bisa melihat tulang daun kelapa yang dipenuhi dengan padi, yang juga dalam jumlah besar disimpan di lumbung tertentu.
            Di dekat beberapa rumah ada sebuah tempat peristirahatan yang ditutup dengan bambu di mana orang sakit dirawat dan diperlakukan dengan cara seperti yang ditunjukkan oleh tabib sementara di mana-mana lesung beras yang terbuat dari kayu gofasa dengan hasil garapan kasar tersebar, dilengkapi dengan telinga dan sangat sulit dipindahkan karena beratnya. Pohon buah di mana-mana ditanam sementara pohon kelapa ditemukan berlimpah ruah meskipun di sini minyak kelapa juga terdesak oleh bensin sebagai bahan bakar. Segera ada orang Alfur yang berasal dari pedalaman datang menjual lilin, damar dan rotan kepada orang asing, kadang-kadang ditukar dengan uang tetapi biasanya dengan kain, kaca dan tembikar. Kaum pria sedikit berbeda dengan orang Alfur Halmahera meskipun mereka tidak begitu kuat dan bentuk wajahnya kurang menonjol. Di dalam hutan mereka mengenakan  cidaku (sejenis cawat dari kulit kayu), tetapi ketika turun ke kampung mereka mengenakan celana pendek dan ikat kepala. Kaum wanita berperawakan kecil dan agak ramping, tetapi bentuknya buruk; sebaliknya kaum wanita dari penduduk Islam di pantai bisa dikatakan cantik. Busananya adalah sebuah sarung yang diikat tinggi dan baju dari kulit pohon. Ikatan keranjang di punggung dililitkan pada dahi, seperti ketika mereka membawa muatan berat atau menggendong anak.
            Senjata mereka terdiri atas tombak dengan ujung besi runcing (di Tombuku disebut ponsaku, di Alfur disebut jea), sebuah pedang biasa (yang di Tombuku disebut badi, di Alfur disebut pada), sebuah pedang besar (di Tombuku disebut ngomu seperti juga di Alfur; pedang atau logam tajam ini terbuat dari besi yang dilebur dari bijih besi yang ditemukan di dekat Toepe; saya mencoba tetapi gagal untuk mendapatkan sepotong contoh besi ini), sebuah perisai (di Tombuku dan di Alfur disebut kanta) dan sebuah sumpit, yang anak panahnya ditiup untuk membunuh hewan atau manusia. Panah dan busur tidak mereka gunakan.
            Pemukulan sampai mati merupakan akibat dari perzinahan, karena sengketa lain umumnya jarang mencapai tingkat yang bergitu tinggi sehingga darah dituntut untuk membersihkan rasa malu yang muncul. Pembunuhan terjadi karena tidak ada pemerintahan teratur dan masalah yang muncul tidak bisa diselesaikan, tetapi orang menganggap ini berasal dari swangi baik untuk menghindari upaya penyelidikan maupun karena takut pada dendam. Sejak perbudakan dihapuskan, masih ada beberapa kasus perdagangan budak yang muncul tetapi toh berlangsung dengan cara yang sangat terselubung, karena penghukumannya akan disampaikan kepada semua pimpinan adat.
            Yang sedikit menyimpang adalah kebiasaan minum sampai mabuk karena saguwer di sini tidak diminum tetapi dua minuman lain yang disebut anes Tobungku dan panggasi. Untuk mendapatkan anes Tobungku, saguwer dimasak dalam periuk tanah sampai mendidih dan dalam adonan yang sangat baik dituangkan dalam tabung bambu tipis yang pada ujung lainnya dilengkapi dengan beberapa lobang kecil sehingga uap mengepul dan cairan bisa diminum sebagai anes. Pangasi merupakan minuman yang merupakan percampuran antara beras dengan arak Bugis atau anes Bugis, yang adonannya setelah dimasak dituangkan dalam tempayan dan dicampur dengan air dan didiamkan selama beberapa hari. Di pantai ini merupakan minuman umum tetapi orang Alfur lebih menyukai anes; orang Alfur tidak merokok, tetapi orang pantai melakukannya.
            Selain melalui keputusan ujian yaitu dengan pembenaman kepala di dalam air dan siapa yang muncul duluan berarti pihak yang kalah (di Tombuku disebut lomeo), sengketa atas hak milik seperti pohon sagu diselesaikan dengan adu ayam (batadi), sehingga pemilik ayam yang menang akan menerima pohon yang disengketakan itu. Dalam kasus serius, pengambilan sumpah (metunda) diterapkan yang menunjukkan bahwa pada sebuah mangkuk putih dengan separuh berisi air sebutir emas dan sebuah peluru dimasukkan, seorang tetua (bobeto) membacakan mantera dan pihak yang ditunjuk harus meminum dari cairan ini dan tubuhnya juga gemetaran; artinya, dia akan mati terkena peluru atau lebur seperti emas apabila dia tidak berkata benar.
            Para penulis artikel majalah salah dalam menduga bahwa mas kawin tidak dikenal di daerah ini. Sebaliknya seperti di tempat lain, gadis harus dibeli dengan kain, tembikar dan barang-barang lain dari orangtuanya. Apa yang mereka sampaikan tentang jenasah juga tidak benar. Jenasah dimasukkan dalam peti kayu berbentuk perahu atau diletakkan di atas pohon tinggi, atau diletakkan dalam goa dan juga dikuburkan. Dahulu orang-orang mengumpulkan tulang-tulang  yang masih tersisa dari seluruh keluarga dalam periuk tanah yang besar yang kini masih dijumpai di goa-goa itu. Sejauh mana bahasa Alfur berbeda dengan Tombuku, tidak diketahui.
            Wilayah kerajaan Banggai yang sudah dikemukakan juga mencakup dua pulau yang ada diujung timur; dari teluk Taliabu sampai Tanjung Nipah-Nipah sepanjang pantai, di dekat Kendari masih ada sejumlah pulau lain yaitu Langgala, Toko Eja, Paku, Tombolo, Sain Nua, Ontalau, Bungin Tende, Safaile, Toro Asolo, Tamagolo, Bete, Pulu Tiga, Kuikuila, Bungi Bungi, Padei, Rumbia, Nanaka, Batu, Pengia, Gimpa, Dediri, Karanto, Nonasi, Bolasikan, Paropati, Pinapinasa, Tatabonti, Bobosi, Togong Talam, Togong Teong, Labengki, Basulu, Bahu Bulu, Labungka, Ambewa dan Nanga Simbori yang letaknya tidak pernah ditentukan, karena belum ada kapal yang datang mengukur daerah ini. Nama-nama yang disebutkan di sini sangat berbeda dengan nama-nama dalam artikel majalah dan berkas-berkas yang diambil alih oleh Bleeker karena di Ternate orang tidak pernah mendengar informasi tentang Bungku.
Antara Banggai dan Tobungku pernah terjadi sengketa perbatasan wilayah kerajaan, masing-masing mengklaim wilayah Pulau Togong Teong, ternyata pulau ini hanya merupakan sebuah pulau karang dengan perpanjangan alluvial ke barat yang hanya menampung sejumlah keong  putih; tempat ini hanya terbuka pada saat permukaan rendah (surut) pulau ini dianggap lebih cocok sebagai batas dan dipertahankan demikian setelah pembicaraan dengan para kepala adat.
Dari penjelasan yang dikemukakan tentang kerajaan Banggai masa Ternate tersebut tampaknya pelantikan yang dilakukan sampai kepada raja-raja yang memerintah secara turun temurun hanyalah boneka dari Belanda atas pesetujuan sultan Ternate, semua kekuasaan baik pemerintahan dan ekonomi dikuasai Belanda dan rakyat mengirim upeti kepada sultan Ternate, kalau ada raja Banggai yang melawan seperti Abu Kasim, Raja Agama dan lainnya, mereka diperangi sultan Ternate dibantu Belandam sehingga dapat dikatakan praktis raja-raja Banggai hanyalah raja  dari simbol kekuasaan Belanda dan sultan Ternate yang ada di Banggai.



[1]Katsir H.Djiha di Palu, H.Noho Takunas, Hj. Saadiah Takunas, Ranur Sabbu  di desa Lumbi-lumbia,  Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu, di desa Buko, H. Hamid di Desa Kambani, Bone Puso, Azidin di desa Suit; (Pulau Peling);  Muh.Zamrud Dulumina, Ahmadi Laissi, Djasman Masia, Haidjon, Sahia dan Dantje di desa Mansalean (Pulau Labobo); Hj. Halimah. A.Dj. di desa Loonas, Hasman Abbas di  desa Loonas, Taufiq Malida di desa Boneyaka  (Pulau Banggai) menjelaskan bahwa; Tukang Radar  adalah orang-orang tertentu dari masyarakat setempat yang ada di P.Peling, P.Banggai, P.Labobo, serta Pulau Timpaus, yang bertugas mencari barang-barang antik peninggalan nenek moyang yang dikubur bersama-sama jasad raja, baik itu berupa piring, atau benda berharga lainnya seperti patung Budha yang terbuat dari perunggu yang menoleh ke sebela kiri, meriam-meriam dan sebagainya untuk di jual kepada pembeli (penadah). Tukang radar menggunakan alat pencari jejak barang antik melalui media sebuah besi panjang (besi berukuran kurang lebih satu sampai satu setengah meter, tebal kurang lebih sepuluh  milimeter berbentuk hurup T yang ditancapkan ke setiap tempat yang dianggap menyimpan benda kuno, dan apabila menemukan ada benda di dalamnya mereka akan membongkar tempat itu, tak peduli  makam siapa, situs apa yang penting mereka mendapatkannya, sehingga hampir semua makam-makam peninggalan tua yang ada di bulau-bulau yang pernah menjadi pusat kekuasaan sebelum kerajaan Banggai berdiri, kini hamper seluruhnya sudah rata dengan tanah, yang tampak tinggal onggokan batu-batu kapus saja yang ada seperti yang ada di desa Lumbi-lumbia, Buko, Mansalean, Salakan,”interviu/wawancara” di lakukan sejak Tanggal 10 Juli – 2 Agustus 2011 di Palu, Peling, Banggai, sampai P.labobo. 
[2]H. Yusuf Basan, Hukum Tua (Ketua Adat) Banggai sekarang, di wawancarai tanggal 21 Juli 2010 di Salakan (Ibu Kota Kabupaten Banggaai Kepulauan); Muhammad Zamrut Dulumina, Djasman Masia, Hukum Tua Labobo Timpaus, di wawancarai tanggal 23 Juli 2010 di Mansalean Ibu Kota Kecamatan Labobo. 
[3]Hale Djiha, tokoh/pemuka agama di Kecamatan Bulagi, wawancara di lakukan di desa Lolantang  tanggal, 21 Juli 2011, Dj.Masia tokoh masyarakat, Hukum Tua di Mansalean Pulau Labobo, di wawancarai  tanggal 23 Juli 2011. Dalam penjelasannya bahkan Dj.Masia mengemukakan salah seorang yang berasal dari raja-raja yang ada di Peling bernama Lee ing (leengt) menjadi penguas di pulau Labobo dan menjalin hubungan dengan raja-raja kediri, utamanya bidang perdagangan sehingga banyak hasil dari Pulau Labobo dan sekitarnya dibawa berdagang ke kediri, dan perdagangan antar pulau ini berlangsung sampai tahun 1900 an, dan beliau sendiri dengan beberapa orang pernah melaksanakan kegiatan perdagangan antar pulau tersebut sampai ke wilayah malaka (sekarang kepulauan riau).
[4]Nursalam Sabbu di Buko, dan Azidin di Desa Sui, menjelaskan bahwa perpecahan raja-raja Fuadino di Palabatu diakibatkan oleh keinginan anak keturunan Raja Fuadino di Palabatu yang semuanya ingin menjadi penguasa (raja), bahkan sealah seorang anak raja yang pergi meninggalkan Palabatu menuju Timur dan singgah di satu pulau yang kini dinamakan pulau Banggai, bernama Dodung, yang kemudian diabadikan menjadi nama desa Dodung sekarang masuk dalam kawasan kota Banggai  ibu kota Banggai kepulauan yang lama sebelum dipindahkan ke Salakan.
[5]Noho Takunas, Hj.Saadiah Takunas,  Ranur Sabbu  di desa Lumbi-lumbia,  Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu, di desa Buko menjelaskan, dan mereka menyatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Palabatu, Noho Takunas menjelaskan lagi bahwa sampai saat ini suku sea-sea masih mewarisi satu budaya yang dikatakan dengan puasa tumbuno yakni semacam larangan untuk tidak mengkonsumsi binatang yang diharamkan Islam seperti; anjing, babi, ular dan sebagainya atau melakukan sesuatu yang dianggap mencederai atau melukai orang dan makhluk lainnya, dan hal itu semua serentak dilakukan oleh suku di pegunungan (sea-sea), meskipun diakui mereka juga sudah terpecah menjadi sea-sea yang sudah beradaptasi dengan masyarakat pantai dan suku sea-sea yang tidak mau beradatasi dengan masyarakat pantai, suku sea-sea yang tidak mau bergabung dengan masyarakat pantai karena mereka takut adat istiadat mereka dipengaruhi an terpengaruh oleh masyarakat luar, sehingga mereka lebih memilih hidup dipuegunungan batu yang jauh dari jangkauan penduduk pantai, mereka hanya memakan ubi (talas) yang hidup di sela-sela batu kapur dengan lauk ikan yang diambil dari kawah pemandian Lemelu.
[6]Hale Djiha di desa Lolantang, Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu, Noho Takunas di desa Lumbi-lumbia, Azidin di desa Suit, Djasman Masia di desa Mansalean Pulau Labobo, menceritrakan pada saat melakukan wawancara/interviu dilaksanakan tanggal 21-24 Juli 2001
[7]Ranur Sabbu  di desa Lumbi-lumbia,  Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu di desa Buko menjelaskan bahwa pemandian Lemelu biasanya dijadikan tempat pemandian penyucian diri oleh suku bangsa Sea-Sea pada waktu-waktu bulan Muharram, setelah mereka kelakukan kegiatan puasa “tumbuno”; wawancara / interviu dilaksanakan tanggal 21-24 Juli 2001.
[8]Hale Djiha di Desa Lantang, Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu, Noho Takunas di desa Lumbi-lumbia, Azidin di desa Suit, menceritrakan pada saat melakukan wawancara interviu dilaksanakan tanggal 21-24 Juli 2001. 
[9]Katsir H.Djiha, Guru, tokoh Masyarakat, menjelaskan bahwa sangat beanyak adat istiadat yang mempunyai kesamaan antara apa yang ada di Kalimantan, Kutai Kartanegara,Tenggarong  dengan apa yang ada di daerah Bulagi selatan, Lolantang, Buko, Kambani dan sekitarnya, sehingga kemungkinan besar Kerajaan Fuadino yang ada di Palabatu itu mempunyai kaitan erat dengan kerajaan yang ada di Kalimantan. Apalagi masa Islam, terasa sekali adanya kesamaan adat istiadat bernuansa Islam antara apa yang ada di Lolantang sekitarnya dengan Kalimantan. 
[10]Nursalam Sabbu, Thamrin Sabbu, Noho Takunas di desa Lumbi-lumbia di Pulau Peling;  Dj.Masia, Jamrut Dulumina di Pulau Labobo ; Syamsuddin T.Suli di Batui, Puar Abuda di Salakan  menceritrakan bahwa: sebutan “Benggawi” hanya ada dalam  tulisan para sejaran yang menceritrakan perihal kekuasaan kerajaan Singosari dan Majapahati, namun pada masyarakat yang ada di pulau-pulau yang kini menjadi bagian kabupaten Banggai Kepulauan, tidak dikenal dan mereka sendiri hanya mengenal Pulau Banggai dahulu Benggawi dengan sebutan Tanobolukan. Tanobolukan atau tanobalukan adalah nama lain dari pulau pedagangan atau sekarang dikenal dengan pulau sebagai kawasan perdagangan.
[11]Iswara  N. Raditya, Sejarah Melayu.  http:  //melayuonline.com / lnd/history /dig /505/ kerajaan - banggai, di akases tanggal 28 Agustus 2011
[12]Dj.Masia, Jamrut Dulumina di Pulau Labobo, menceritakan bahwa prasasti tersebut pada tahun 1980 an masih ada dan disimpan di rumah adat, namun setelah rumah adat sudah rusak, maka benda-benda tersebut  berpindah tangan pada keluarga yang merasa memiliki hubungan dengan dengan raja-raja, hingga akhirnya sekarang tidak diketahui siapa yang menyimpan, ada yang menginformasikan dibawa ke Ternate, ada yang menginformasikan ada di Bangkurung, ada yang menginformasikan sudah dibawa ke Jakarta sebagai tanda kesetiaan terhadap NKRI, mana yang benar tidak diketahui. Wawancara dilakukan di Mansalean Tanggal 24 Juli 2011.
[13]Sumber : Pieter Bleeker, Reis door de Minahasa en Molukschen Archipel, gedaan in de maanden September en Oktober 1855, volume I (Batavia, 1856, Lange en Co)
[14]ibid
[15]Albertus Jacobus Duymaer van Twist, Aanteekeningen betreffende een reis door de Molukken (‘s Gravenhage, 1856, M. Nijhoff)
[16]P. van der Crab, De Moluksche eilanden: Reis van Z.E. den Gouverneur Generaal C.F. Pahud (Batavia, 1862, Lange en Co) h.312
[17]Ibid h.313
[18]Ibid. h.314
[19]Ibid
  

 BAGIAN III
HASIL PENELITIAN

Dalam tinjauan historis dan dengan menggunakan pendekatan teori sejarah yang dikemukakan dalam bentuk narasi fungsional yang menekankan kepada konsep-konsep terkait terdapat beberapa temuan terkait dengan kerajaan Banggai sebagai berikut:
A.  Eksistensi Kerajaan Banggai
Kerajaan Banggai eksis menjadi satu kerajaan nusantara sejak tahun 1600 pada saat putra Adi Cokro bernama Frins Mandapat atau disebut masyarakat di Pulau Peling dengan Frins Van Den Vaar di lantik oleh sultan Ternate sebagai Raja Banggai pertama. Secara de yure kerajaan Banggai berakhir pada tanggal 12 Agustus 1952 sejak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1952 tentang penghapusan daerah Otonom Federasi Kerajaan Banggai.
Sebagai bentuk pengakuan akan jasa-jasa kerajaan sebagai wadah untuk melestarikan  nilai historis dan berbagai adat istiadat yang menjadi khazanah kekayaan bangsa, kerajaan Banggai tetap saja ada, namun tidak memiliki kekuasaan pemerintahan, dan Raja pada waktu itu adalah Muhammad Chair Amir, keturunan dari Tomundo Abdul Rahman Raja banggai ke 18.
Sebelum Kerajaan Banggai didirikan melalui pengakuan Sultan Ternate dan Belanda, telah berdiri beberapa kerajaan sebelumnya yang melindungi rakyat yang ada di Pulau-Pulau yang kemudian menjadi wilayah Kerajaan Banggai. Kerajaan- kerajaan tersebut adalah Kerajaan Fuadino berkedudukan di Palabatu wilayah Pulau Peling tepatnya di Peling Barat. Kerajaan ini telah berdiri sebelum kedatangan Bala tentara Singosari dan Majapahit dibawa panglima perang Hayam Wuruk. Setelah penyerbuan tentara Majapahit kerajaan Fuadino semakin menurun pamornya, namun eksis sebagai satu kerajaan di mana raja-raja mengatur kehidupan rakyatnya. Karena semakin lembah kemudian terjadi pembagian kerajaan yakni Kerajaan Buko, Kerajaan Bulagi, kemudian menyusul berdiri Kerajaan Sisispan, Kerajaan Liputomundo, Kerajaan Kadupadang dan Bongganan di bagian Timur Pulau Peling. Di Tanobolukan yang akhirnya menjadi pusat kerajaan Banggai, berdiri kerajaan kecil yang dikenal oleh kerajaan Singosari dengan Benggawi memiliki raja-raja bernama: Raja Gahani- Gahani, Raja Tahani-Tahani; Raja Adi Pakalut; Raja Adi Moute; Raja Adi Lambai; Raja Kokusu; Raja Sasa; Raja Sabol; raja Adi Cokro; Raja Abdul Djabbar; Raja Mpu Nolo; Raja Ansyarah; Raja Kadubo; Raja Kalubalang I; Raja Kalubalang II; Raja Manila; Raja Abu Kasim; Raja Tosali; Raja Syidada.
Setelah kolonial masuk nusantara dan berada di Ambon dan ternate, maka sekitar tahun 1600, maka Sultan Ternate melantik Frins Mandapat Putra Adi Cokro Raja asal Kediri, Benggawi ke 9. Dengan Pelantikan Frins Mandapar, maka kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Pulau Peling, Pulau labobo, Pulau Bangkurung, Loinang Barat, Loinang Timur bahkan Tombuku dipersatukan menjadi kerajaan Banggai. Periode kerajaan Banggai dimulai Tahun 1600 – 1952 setelah diterbitkan dan diberlakukannya PP No.33 Tahun 1952  Tanggal 12 Agustus 1952 tentang Penghapusan Daerah Otonom Federasi Kerajaan Banggai,  maka berakhir pula masa kekuasaan atau otonomisasi Kerajaan Banggai.

B.  Hubungan Kerajaan dengan Kerajaan Nusantara
Sekitar abad ke-13, masa pada masa keemasan kerajaan Singosari yang berpusat di jawa Timur, ketika itu Singosari di bawah kekuasan terakhir dan terbesar yaitu Kertanegara ( 1268-1292 ), nama Banggai telah di kenal dan menjadi bagian kerajaan Singaosari. Berikutnya, sekitar abad 13-14 Masehi pada masa kerajaan Mojopahit yang juga berpusat di Jawa Timur, ketika tampuk pemerintahan di pegang raja terbesar Mojopahit bernama Hayam Wuruk ( 1351-1389 ) saat itu kerajaan Banggai sudah dikenal dengan sebutan "BENGGAWI"dan menjadi bagian kerajaan Mojopahit. Bukti bahwa kaerajaan Banggai sudah di kenal sejak zaman Mojopahit dengan nama Benggawi setidaknya dapat di lihat dari apa yang telah di tulis seorang pujangga Mojopahit yang bernama Mpu Prapanca dalam bukunya"Negara Kartagama" buku bertarikh caka 1478 atau tahun 1365 Masehi,yang dimuat dalam seuntai syair nomor 14 bait kelima sebagai berikut "Ikang Saka Nusa-Nusa Mangkasara,Buntun Benggawi,Kuni,Galiayo,Murang LingSalayah,Sumba,solor,Munar,Muah,Tikang,I Wandleha, Athawa Maloko, Wiwawun ri Serani Timur Mukadi Ningagaku Nusantara".(Mangkasara = Makasar, Buntun = Buton, Benggawi = Banggai, Kunir = Pulau Kunyit,Salayah = Selayar, ambawa = Ambon,Maloko = Maluku ).
Hayam Wuruk ingin mempersatukan Nusantara lewat sumpah Palapa yang di ucapkan sang Pati Gajah Mada.Dengan sumpah tersebut Hayam Wuruk makin terkenal dengan programnya mempersatukan Nusatara. Di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Banggai pernah bediri kerajaan-kerajaan kecil.Yang tertua bernama kerjaan bersaudara Buko dan Bulagi.letak kerajaan Buko dan Bulagi berada di pulau Peling belhan barat.Kemudian muncul keajaan-kerajaan baru seperti, Kerajaan Sisipan, Kerajaan Lipotomundo, dan Kadupadang.Semuanya beada di pulau Peling bagian tengah (sekarang kecamatan Liang).
Sementara di bagian pulau Peling sebelah timur (sekitar Kecamatan Totikum dan Tinangkung) waktu itu telah berdiri kerajaan yang agak besar yakni kerajaan Bongganan. Upaya unntuk memekarkan kerjaan Bongganan dilakukan Pangeran dan beberapa bansawan kerajaan akhirnya membuahkan hasil bila sebelumnya wilayah kerajaan banggai hanya meliputi pulau Banggai, kemudian dpat diperlebar. Di banggai Darat ( kabupaten Banggai, waktu itu sudah berdiri Kerajaan Tompotika yang berpusat di sebelah utara (Kecamatan Bualemo ) bagian Selatan kerajaan tiga bersaudara Motindok, Balaloa, dan Gori-Gori. Perkembangan Kerajaan Banggai yang ketika itu masih terpusat di Pulau Banggai, mulai pesat dan menjadi Primus Inter Pares atau yang utama dari beberapa kerajaan yang ada, sewaktu pemerintahan Kerajaan Banggai berada di bawah pembinaan Kesultanan ternate akhir abad 16.
Wilayah Kerajaan Banggai pada tahun 1950-an hanya meliputi Pulau Banggai, kemudian diperluas sampai ke Banggai Darat, hingga ke Tanjung Api, Sungai Bangka dan Togong Sagu yang terletak di sebelah Selatan Kecamatan Batui. Perluasan wilayah Kerajaan Banggai dilakukan oleh Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa pada abad ke-16. Istilah " Mumbu Doi" berarti yang wafat atau mangkat, khusus dipakai untuk raja-raja Banggai yang tertinggi derajatnya. Adi Cokro adalah bangsawan dari Pulau Jawa yang mengabdikan diri kepada Sultan Baab-Ullah dari Ternate. Di tangan Adi Cokro kerajaan-kerajaan Banggai mampu dipersatukan hingga akhirnya ia dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai. Adi Cokro tercatat pula sebagai orang yang memasukkan agama Islam ke Banggai. hal tersebut sebagaimana ditulis Albert C. Kruyt dalam bukunya De Vorsten Van Banggai ( Raja-raja Banggai). Adi Cokro bergelar Mumbu Doi Jawa, yang dalam dialeg orang Banggai disebut Adi Soko, mempersunting seorang wanita asal Ternate berdarah Portugis bernama Kastellia (Kastella). Perkawinan Adi dengan Kastellia melahirkan putra bernama Mandapar yang kemudian menjadi Raja Banggai. Istilah " Adi" merupakan gelar bangsawan bagi raja-raja Banggai, hal tersebut sama dengan gelar RM ( Raden Mas) untuk bangsawan Jawa atau Andi bagi bangsawan bugis. Karena Kerajaan Banggai dikenal Oleh Kerajaan Ternate, sementara Kerajaan Ternate ditaklukan Bangsa Portugis, otomatis Kerajaan Banggai berada dibawah kekuasaan Bangsa Portugis. Bukti, itu setidaknya dapat dilihat dengan ditemukannya sisa-sisa peninggalan Bangsa Portugis di daerah ini di antaranya meriam kuno atau benda peninggalan lainnya. Tahun 1532 P.A. Tiele pernah menulis dalam bukunya De Europeers in Den maleischen Archipel, di sana disebutkan, bahwa pada tahun 1532. Laksamana Andres De Urdanette yang berbangsa Spanyol merupakan sekutu ( kawan ) dari Sultan Jailolo, pernah mengunjungi wilayah sebelah Timur Pulau Sulawesi ( Banggai ). Andres de Urdanette merupakan orang barat pertama yang menginjakan kaki di Banggai. Sedang orang Portugis yang pertama kali datang ke Banggai bernama Hernando Biautemente tahu 1596. Tahun 1956 Pelaut Belanda yang sangat terkenal bernama Cornelis De Houtman datang ke Indonesia. Menariknya, pada tahun 1594 atau dua tahun sebelum datang ke Indonesia Cornelis De Houtman sudah menulis tentang Banggai. ketika Adi Cokro ynag bergelar Mumbu Doi Jawa, kembali ke tanah Jawa dan wafat disana, tampuk Kerajaan Banggai dilanjutkan oleh Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong. Mandapar dilantik sebagai Raja Banggai pada tahun 1600 di Ternate oleh Sultan Said Uddin Barkat Syah. Tahun 1602 Belanda datang ke Indonesia dan mendirikan Vereeniging Oast Indische Compagnie ( VOC ) yang merupakan Kongsi Dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur ( Indonesia ). Kesaksian salah seorang pelaut bangsa Inggris bernama David Niddeleton yang pernah dua kali datang ke Banggai menyebutkan. Pengaruh VOC di Banggai sudah ada sejak Raja Mandapar memimpin Banggai. Kerajaan Banggai pernah dikuasai Ternate. namun setelah Kerajaan Ternate dapat ditaklukan dan direbut oleh Sultan Alaudin dari Kerajaan Gowa ( Sulawesi Selatan ) maka Banggai ikut menjadi bagian dari Kerajaan Gowa. Dalam sejarah tercatat Kerajaan Gowa sempat berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat di Indonesia Timur. Kerajaan Banggai berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gowa berlangsung sejak tahun 1625-1667.
Pada tahun 1667 dilakukan perjanjian Bongaya yang sangat terkenal antara Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa melepaskan semua wilayah yang tadinya masuka dalam kekuasaan Kerajaan Ternate seperti Selayar, Muna, Manado, Banggai, Gapi ( Pulau Peling ), Kaidipan, Buol Toli-Toli, Dampelas, Balaesang, Silensak dan kaili. Pada saat Sultan Hasanuddin dikenal sebagai raja yang sengit melawan Belanda. Bentuk perjuangan yang dilakukan Hasanuddin ternyata memberikan pengaruh tersendiri bagi Raja Banggai ke-4, yakni Raja Mbulang dengan gelar Mumbu Doi Balantak ( 1681-1689 ) hingga Mbulang memberontak terhadap Belanda. Sebenarnya Mbulang Doi Balantak menolak untuk berkongsi dengan VOC lantaran monopoli dagang yang terapkan Belanda hanya menguntungkan Belanda sementara rakyatnya di posisi merugi. Tapi apa hendak dikata, karena desakan Sultan Ternate yang menjadikan Kerajaan Banggai sebagai bagian dari taklukannya, dengan terpaksa Mbulang Doi Balantak tidak dapat menghindar dari perjanjian yang dibuat VOC ( Belanda ). Tahun 1741 tepatnya tanggal 9 November perjanjian antara VOC dengan Mbulang Doi Balantak diperbarui oleh Raja Abu Kasim yang bergelar Mumbu Doi Bacan. Meski perjanjian telah diperbaharui oleh Abu Kasim, tetapi secara sembunyi - sembunyi Abu Kasim menjalin perjanjian kerjasama baru dengan Raja Bungku. Itu dilakukan Abu Kasim dengan target ingin melepaskan diri dari Kerajaan Ternate. Langkah yang ditempuh Abu Kasim ini dilakukan karena melihat beban yang dipikul oleh rakyat Banggai sudah sangat berat karena selalu dirugikan oleh VOC. Tahu raja Abu Kasim menjalin kerjasama dengan Raja BUngku, akhirnya VOC jadi berang ( marah ). Abu Kasim lantas ditagkap dan dibuang ke Pulau Bacan ( Maluku Utara ), hingga akhirnya meninggal disana.
Usaha Raja - raja Banggai untuk melepaskan diri dari belenggu Kerajaan Ternate berulang kali dilakukan. dan kejadian serupa dilakukan Raja Banggai ke-9 bernama Antondeng yang bergelar Mumbu Doi Galela ( 1808 - 1829 ).Serupa dengan Raja-raja Banggai sebelumnya, Antondeng juga melakukan perlawanan kepada Kesultanan Ternate. Sebenarnya perlawanan Anondeng ditujukan kepada VOC ( Belanda ). Karena Antondeng menilai perjanjian yang disebut selama ini hanya menguntungkan Hindia Belanda dan menjepit rakyatnya. Karena itulah Antondeng berontak. Karena perlawanan kurang seimbang, Antondeng kemudian ditangkap dan dibuang ke Galela ( Pulau Halmahera ). Setelah Antondeng "dibuang" ke Halmahera, Kerajaan Banggai kemudian dipimpin Raja Agama, bergelar Mumbu Doi Bugis. Memerintah tahun 1829 - 1847.
Raja Agama sempat melakukan perlawanan yang sangat heroik dalam perang Tobelo yang sangat terkenal. Tetapi Kerajaan ternate didukung armada laut yang "modern" akhirnya mereka berhasil mematahkan perlawanan Raja Agama. pusat perlawanan Raja Agama dilakukan dari "Kota Tua" banggai ( Lalongo ). Dalam perang Tobelo, raja Agama sempat dikepung secara rapat oleh musuh. Berkat bantuan rakyat yang sangat mencintainya, Raja Agama dapat diloloskan dan diungsikan ke wilayah Bone Sulawesi Selatan, sampai akhirnya wafat di sana tahun 1874. Setelah Raja Agama hijrah ke Bone, munculah dua bersaudara Lauta dan Taja. Kepemimpinan Raja Lauta dan Raja Taja tidak berlangsung lama. Meski hanya sebentar memimpin tetapi keduanya sempat melakukan perlawanan, hingga akhirnya Raja Lauta dibuang ke Halmahera sedang Raja Taja diasingkan ke Pulau Bacan, Maluku Utara. Dalam Pemerintahan Kerajaan Banggai, sejak dulunya sudah dikenal sistem demokrasi. Dimana dalam menjalankan roda pemerintahan Raja akan dibantu oleh staf eksekutif atau dewan menteri yang dikenal dengan sebutan komisi empat, yaitu : 1. Mayor Ngopa atau Raja Muda 2. Kapitan Laut Kepala Angkatan Perang 3. Jogugu atau Menetri Dalam Negeri 4. Hukum Tua atau Pengadilan Penunjukan dan pengangkatan komisi empat, dilakukan langsung oleh Raja yang tengah bertahta. Sementara badan yang berfungsi selaku Legislatif disebut Basalo Sangkap. Terdiri dari Basalo Dodonung, Basalo Tonobonunungan, Basalo Lampa, dan Basalo Ganggang. Basalo Sangkap diketuaioleh Basalo Dodonung, dengan tugas melakukan pemilihan setipa bangsawan untuk menjadi raja. Demikian pula untuk melantik seorang raja dilakukan di hadap[an Basalo Sangkap. Basalo sangkap yang akan melantik raja, lalu akan meriwayatkan secara teratur sejarah raja- raja Banggai. Berurut kemudian disebutkanlah calon raja yang akan dilantik, yang kepadanya akan dipakaikan mahkota kerajaan. Dengan begitu, raja tersebut akan resmi menjadi Raja Kerajaan Banggai.

C.  Masuk dan berkembangnya Islam
Dengan menggunakan teori Mekkah, maka masuknya Islam di Kerajaan Banggai jauh sebelum kerajaan banggai berdiri tahun 1600. Sebab dalam penelitian sejarah Belanda dan penelusuran terhadap kerajaan yang pernah ada sejarawan Belanda mencatatkan bahwa jauh sebelum Belanda atau Portugias datang Islam sudah ada, bukti yang dapat diketahui tinggalah menurut penuturan masyarakat yang ada di pulau-pulau seperti pulau Peling, Banggai, dan Labobo. Mereka menyatakan bahwa mereka memiliki nenek moyang dari Palabatu, dan pada zaman itu Palabatu merupakan negeri ibu kota dari kerajaan Fuadino. Di Palabatu telah ada perkampungan-perkampungan orang cina, Arab, India, Turki, dan Gujarat.
Bukti lain yang dapat diperkirakan adalah pada saat penaklukan kerajaan Singosari dan Majapahit, yang beragama Budha dan Hindu, rakyatnya tidak ada yang beragama Budha atau Hindu sehingga tidak ada peninggalan barupa candi atau poemujaan Budha atau Hindu seperti daerah di mana agama Bidha dan Hindu berkuasa.
Bukti lainya adalah bahasa yang digunakan oleh nenek moyang suku bangsa Banggai atau Seasea di Palabatu menggunakan aksara Arab, seperti tertulis pada batu nisan makam imam Sya’ban Abu Da’i, dan pendahulunya yang bernama syaoli seperti terpahat pada dinding kotak atau banteng tempat Syaoli dikuburkan.
Islam kemudian lebih berkembang lagi setelah ternate berkuasa dan menunjuk frins mandapat sebagai raja dan kemudian menjadikan agama islam sebagai agama Kerajaan sehingga raja-raja atau pimpinan pemerintahan harus beragama Islam.


BAGIAN 4
SIMPULAN HASIL PENELITIAN



  • Pembentukan keberadaan Kerajaan Banggai tidak terlepas dari pengaruh Islam, karena ajaran Islam dijadikan agama resmi kerajaan dan keluarga kerajaan Banggai, juga perangkat dibawahnya seperti tampak pada istilah kerajaan yang mempengaruhinya, yakni Basalo, Kapitalau, sampai kepala distrik harus dapat mengaji (membaca Alquran); bahkan sebagai simbol pengakuan dan simpati SultanTernate terhadap dijadikannya Islam sebagai agama kerajaan, maka Sultan Ternate memberikan hadiah sebuah guci besar yang digunakan menampung air untuk berwudhu mereka yang sholat. Keberadaan Islam di Kerajaan Banggai, jauh sebelum kerajaan ini berdiri sudah ada, bahkan diperkirakan sudah ada sejak abad VII-VIII yang dibawa langsung oleh orang-orang Arab, hal ini dapat dimengerti karena pada masa kerajaan Fuadino di Palabatu, jauh sebelum penaklukan kerajaan Majapahit telah ada beberapa perkampungan Arab, Cina, India, dan Turki, mereka hidup rukun dengan suku atau penduduk asli Seasea. Bukti yang mendukung adalah aksara yang digunakan zaman dahulu berwujud aksara Aran, hal ini dapat dijumpai pada beberapa prasasti berupa batu nisan bertuliskan Aksara Arab, demikian pula penjelasan didinding kotak (Benteng) yang ditulis dengan aksara Arab yang menunjukan bahwa ada salah seorang penyiar Islam bernama Imam Syaoli Abu Da’i. Bukti lainnya adalah peta alam yakni semacam media belajar menggunakan huruf / aksara Arab, menceritrakan tentang kota Mekkah. 

  •  Kerajaan Banggai berdiri sejak dinobatkannya Frins Mandapar tahun 1600 putra Adi Cokro asal Kediri, oleh Sultan Ternate bergelar Sultan Uddin Berkatsyah di Banggai, meskipun demikian Kerajaan Banggai memiliki sejarah yang panjang, karena sesungguhnya sebelum Kerajaan Banggai resmi didirikan oleh Sultan Ternate telah ada kerajaan-kerajaan sebelumnya yang berdaulat dan diakui oleh kerajaan besar seperti kerajaan Singosari, dan Kerajaan Majapahit. Kerajaan tersebut yang tertua adalah Kerajaan Fuadino yang berpusat di Palabatu Pulau Peling. Kerajaan ini mengalami kemunduran karena serangan Majapahit, dengan Panglima perangnya Hayam Wuruk, sehingga akhirnya Kerajaan Fuadino terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil seperti: Kerajaan Buko dan Kerajaan Bulagi, terus berdiri lagi Kerajaan Sisipan, Kerajaan Kadupadang, dan Kerajaan Bongganan. Dengan berdirinya kerajaan Banggai tahun 1600, maka kerajaan-kerajaan kecil yang pernah ada dipersatukan, bahkan juga kerajaan yang ada di daratan besar Pulau Sulawesi seperti; Kerajaan Loinang Barat, Tombuku, dan Loinang Timur yang dikenal dengan Kerajaan Tompotika ikut ditaklukan dan dipersatukan sehingga Kerajaan Banggai menjadi luas sampai menembus pulau-pulau Togean.







4 komentar:

  1. ini saya menceritakan sedikit sejara tutur mengenai adi saka di wilayah bulagi,.....
    .. dahulunya sekitar awal abad ke VI ADI SAKA datang pertama menginjakan kakinya di daerah buko, dan menikah dgn putri seorang basalo di buko dan dikaruniai seorang putra namanya blm diketahui, setelah itu ada seorang basalo dari banggai mengutus seoseorang untuk meminta ADI SAKA mebunuh seekor burung elang raksa atau bhs banggainya alai mbelong, beliaupun menerima permintaan bantuan tersebut setelah burung itu ia bunuh maka dipun menikah dengan putri basalo tersebut yg kemudian melahirkan 2 org putra yg kaka bernama FUADIN atau LIPUADINO dan adiknya belum diketahui namanya, setelah tinggal beberapa waktu dibanggai diapun berangkat ke jawa dan mendirikan sebuah kerajaan di jawa sehingga pada saat itu kerajaan banggai kekosongan raja kemudian dimintalah anaknya untuk memimpin banggai namun mereka katakan mereka mau memimpin banggai tpi harus sepengetahuan bapanya dan akhirnya mereka berangkat ke jawa dengn membawa 40 pengawal, setelah sampai di jawa dan disetujui oleh ayahnya yaitu ADI SAKA adiknya pulang terlebih dulu dgn membawa 9 bendera guna mempersiapkan penyambutan kedatangan kaknya FUADIN untuk dinobatkan sebagai raja namun setelah sampai di banggai diapun lansung diangkat jdi raja. kemudian menyusul kakanya FUADIN dgn membawa 12 bendera tpi sesampai dibanggai dia mendengar bahwa adiknya telah memimpin banggai maka diapun berlayar menuju bulagi dan menikah dengan anak dari BASALO SALAUP bulagi yg kemudian dia meninggal di thn 68 H, beliau FUADIN masuk islam pada seorang penyebar islam yang lebih dikenal dengan nama MIAN TU atau manusia sempurna, BASALO SALAUP atau BASALO SUJUD sendiri masuk islam melalui MIAN TU.untuk adi saka memang tidak begitu jelas asal usulnya sebab ADI SAKA sendiri itu hanya gelar. saya skarang sedang membagi informasi dengan seorang tokoh budayawan jogja yaitu herman sinung jautama mengenai ADI SAKA sebab kalau dijawa sendiri ada seorang sosok sejara yg pembuat huruf jawa yaitu AJI SAKA, dan AJI SAKA sendiri dalam sejarah jawa mereka blum dapat pastikan asal usulnya dan hadirnya tahun berapa beliau di jawa belum mereka dapat pastikan sebab ada yg mengatakan AJI SAKA datang di jawa skitar abad ke-3, yg lain mengatakan ke-4, ke-5, ke-6, ke-7 sampai ke-10.. beberapa waktu lalu saya berbagi info dengannya diapun mengatakan kemungkinan ADI SAKA di banggai yang kedatangannya sekitar abad ke VI dan aji saka di jawa ialah satu sosok..
    maaf tidak terlalu rinci tpi muda2han bisa bermanfaat..

    BalasHapus
  2. Adi Cokro bukan pemersatu...
    Melainkan penjajah..
    Sebab setelah menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada dan katanya di"SATUKAN" menjadi kerajaan Banggai,, kerajaan ini pun menjadi kerajaan BONEKA TERNATE dan dijadikan jaminan atas piutang Ternate terhadap VOC....
    Buktinya ketika raja-raja Banggai melakukan perlawanan kepada pihak VOC,, oleh Kerajaan Ternate jangankan dibantu direstui saja tidak,, yang ada malah raja-raja Banggai yang melawan VOC dijatuhi hukuman oleh pihak ternate...

    BalasHapus
  3. Terus katanya Adi Cokro penyebar Islam...
    Dengan cara perang...????
    Dengan membumihanguskannya...???
    (contoh : kerajaan Tompotika )
    Seperti inikan cara Islam Menyebarkan Agamanya...??
    Gilleeeee benerrr tuch cara yak...??

    BalasHapus