Sabtu, 12 Mei 2012

PENGELOLAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH


I.     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pendidikan karakter dalam konteks kekinian sangat relevan dan penting untuk mengantasi krisis moral yang terjadi di Indonesia. Diakui atau tidak diakui saat ini terjadi krisis nyata dan mengkhawatirkan karena telah berimbas kepada anak-anak dan remaja usia sekolah. Krisis tersebut berupa tawuran antar pelajar, menurunnya kejujuran, kehilangan daya kreatif (kreatifitas), tanggungjawab, dan sebagainya yang sudah menjadi masalah sosial dan ikut memberi andil terjadinya konflik ditingkat rakyat bawah (akar rumput).
Pendidikan sebagai suatu upaya sadar mengembangkan potensi peserta didik (siswa), tidak dapat dilepaskan dari lingkungan mereka berada, utamanya lingkungan budaya, karena pendidikan yang tidak dilandasi  prinsip budaya menyebabkan peserta didik tercabut dari akar budayanya, dan ketika hal itu terjadi maka mereka tidak akan mengenal  budayanya dan akan menjadi asing dalam lingkungan budaya (masyarakat) nya, kondisi demikian menjadikan siswa cepat terpangaruh oleh  budaya luar. Kecenderungan  itu terjadi karena ia tidak memiliki norma dan nilai budaya yang dapat digunakan untuk melkukan pertimbangan (valueing). (Kemendiknas, 2010:5).
Dalam kaitan tersebut, pendidikan nilai kebangsaan atau dewasa ini dikenal dengan pendidikan karakter menjadi amat penting. Karena melalui kegiatan tersebut nilai-nilai kebangsaan akan tersosialisasi sistimatis dan diterima semua kalangan utamanya peserta didik (siswa) sebagai generasi muda bangsa; pendidikan karakter sebagai wujud implementasi sosialisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa, adalah format penguatan yang sistematis dan terencana.  Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan nilai kebangsaan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh  dan berkembang menjadi warga masyarakat yang baik, dan pada titik kulminasinya secara individual maupun kolektif akan memegang teguh nilai budaya. Hal tersebut sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam angka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa.
Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa,  kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting, kesadaan tersebut  hanya dapat terbangun dengan baik melalui pencerahan masa lalu, masa kini dan akan datang tentang bangsanya. (Kemendiknas, 2010:6)
Pendidikan karakter sejatinya merupakan  bagian  esensial tugas sekolah dalam hal ini sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Zubaedi (2011) menyatakan pendidikan karakter adalah:  
Upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya. Nilai luhur tersebut antara lain kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan berfikir termasuk kepenasaran akan intelektual, dan berfikir logis. Pendidikan memiliki beberapa tujuan utama yaitu; pengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia sekaligus warga bangsa; mengembangkan kebiasaan dan perlaku peserta didik yang terpuji, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab, mengembangkan peserta didik menjadi manusia mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan, mengembangkan lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan persahabatan.

Dalam mewujudkan tujuan pendidikan karakter, sangat dibutuhkan peran guru dalam pengelolaan pendidikan karakter yang benar-benar memiliki kekuatan dalam menciptakan suasana yang kondusif  bagi tumbuh kembangnya nilai-nilai karakter yang diharapkan, bukan sekedar konsep yang ditempelkan pada mata pelajaran tertentu untuk mendapatkan pengakuan bahwa pendidikan karakter sudah dilaksanakan, sehingga tidak memberikan dampak yang berarti terhadap kepribadian peserta didik.
Pada studi awal lapangan ditemukan  sekitar  79 persen guru SMP 1 Biromaru menyatakan bahwa pendidikan karakter sudah dilaksanakan, hal tersebut dibenarkan Wakasek Kesiswaan  Drs. Amir saudo (diwawancarai, 26/03/2012)  yang menyatakan telah dilaksanakan aktifitas sebagai bentuk pendidikan karakter yakni: pembiasaan perilaku siswa yang mengarah kepada peningkatan kesadaran diri dan lingkungan (akhlak mulia) dengan wujud : tiap-tiap siswa datang ke sekolah pagi hari memunguti rumput dan membuangnya ke tong sampah; berbaris tertib saat masuk dan keluar ruang belajar; menghormati guru yang dijumpai dengan menjabat tangan sang guru tak peduli apakah mengajar di kelasnya atau tidak.  Pembiasaan tersebut sudah dilakukan sejak tahun pelajaran 2000 – 2001 hingga sekarang.
Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan karakter  yang disosialisasikan ke sekolah  SMP 1 Biromaru  menjelang tahun pelajaran 2010 – 2011, dalam tinjauan perilaku pembiasaan  tampaknya sama dengan apa yang sudah dilakukan selama ini, namun apabila  bertitik  tolak pada pengelolaan  yang sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Pendidikan  Karakter  yang  diterbitkan Kemendiknas (2011:26) yakni : menyusun analisis konteks,  menyusun Rencana Akasi Sekolah (RKS) yang berintikan penyusunan dokumen tentang nilai-nilai  yang  akan dikembangkan secara terstruktur dan terprogram  dalam visi, misi  serta prinsip pengembangan; pembelajaran,  inovatif, kreatif , adaptif dan proaktif berbudaya lingkungan   sampai kepada kurikulum yang adaptif,  belum dilaksanakan secara penuh, maka sesuai dengan penelitian awal yang dilaksanakan  di SMP 1 Biromaru, hanya 12 persen dari seluruh guru yang menyatakan sudah dilaksanakan pengelolaan pendidikan karakter,  selebihnya yakni  88 persen menyatakan belum dilakukan pendidikan karakter.
Memperhatikan temuan tersebut dan dihubungkan dengan informasi Ibu Dra. Hayatun Nufus salah seorang guru  (diwawancarai, 28/03/2012) bahwa sesuai dengan informasi dari pihak Pengawas sekolah yang ditugaskan melakukan sosialisasi pendidikan karakter di SMP 1 Biromaru, maka pendidikan karakter dilakukan melalui pencantuman nilai-nilai  karakter  tertentu  ditiap-tiap  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu pada  setiap Kompetensi Dasar (KD). Nilai  pendidikan karakter dianggap tercapai apabila KD yang diajarkan tuntas,  yang  dinilai melalui penilaian atau tes formatif.  Ditambahkan pula bahwa proses penanaman nilai-nilai karakter dianggap satu bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran yang dilakukan, walaupun kurikulum yang digunakan belum dilakukan penyesuaian dengan kurikulum khusus untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.
Menurut Kepala Tata Usaha (KTU)  SMP  1 Biromaru (01/04/2012) pendidikan karakter di SMP 1 Biromaru benar sudah  dilaksanakan  sudah dilaksanakan sebagaimana dikemukakan oleh guru-guru, baik itu mengatur perilaku siswa maupun melakukan pembinaan  di kelas dan pembinaan ketakwaan di mesjid serta pembinaan lainnya melalui Pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR), namun hal-hal yang berhubungan dengan administrasi pembelajaran yang berkaitan dengan pendidikan karakter seperti kurikulum, sarana, cara-cara mengajar apalagi dalam hal menegakan disiplin terhadap siswa pada pagi hari sampai waktu pulang sekolah masih jadi masalah , karena  bukan  kendalanya bukan saja pada siswa; tetapi guru juga sendiri masih jauh dari sikap disiplin dalam melaksanakan tugasnya;  mereka belum  bisa memberikan  keteladanan yang sungguh-sungguh, lebih banyak  menuntut hak daripada melaksanakan kewajibannya sebagai guru. Sehingga tidak mengherankan  kalau disiplin  yang harapkan belum bejalan baik, demikian pula kejujuran, sopan santun, kratifitas dan kemandirian belum bisa diwujudkan secara maksimal di sekolah, apalagi di rumah.
Kondisi  obyektif  lapangan yang ditemukan, apabila dihubungkan dengan pelaksanaan pendidikan karakter sesuai dengan pedoman Kemendikbud (2011:13)  yang menyatakan pelaksanaan pendidikan karakter dimulai dari tahap perencanaan visi, misi dan tujuan sekolah, tahap pelaksanaan, tahap pengkondisian pendidikan karakter, tahap penilaian keberhasilan dan tindak lanjut, maka hasil temuan lapangan mengidikasikan pengelolaan pendidikan karakter di SMP 1 Biromaru belum sesuai sepenuhnya dilaksanakan sesuai  dengan Desain Induk Pendidikan Karakter (2011) ataupun Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Pendidikan Karakter SMP (2011).          
Dengan kasus yang tampak tersebut, peneliti tertarik dan terdorong mengungkap dan mempelajari lebih jauh tentang bagaimana sesungguhnya implementtasi pengelolaan pendidikan karakter di SMP Negeri 1 Biromaru sehingga benar-benar mampu berkontribusi dalam proses pembentukan karakter peserta didik yang konsisten, sehingga pemahaman siswa  terhadap nilai-nilai kehidupan yang terpuji  (akhlak mulia), tidak lagi hanya melalui proses pembiasaan dan pencantuman nilai-nilai dalam program pembelajaran semata, tetapi dilakukan secara holistik multi jalan dan multi program, mengingat SMP 1 Baromaru adalah  satu-satunya SMP  Standar Nasional (SSN) dari 44 SMP yang  ada di Kabupaten Sigi, dan menjadi salah satu sekolah yang berada di kawasan konflik Sigi, meskipun demikian tidak pernah terlibat dalam konflik.

B.     Rumusan  Masalah
Agar penelitian ini lebih fokus terhadap permasalahan yang akan diteliti maka fokus penelitiannya adalah implementasi pengelolaan  pendidikan karakter  di sekolah dari aspek perencanaan, pelaksanaan dan penilaiannya. Pokok masalah tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :  
1.      Bagaimana menyusun  perencanaan  yang  implementatif  sehingga  dapat diterapkan dalam pendidikan karakter di SMP 1 Biromaru Kabupaten Sigi. ?
2.      Bagaimana menjelaskan implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi. ?  
3.      Faktor apa yang mempengaruhi implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi. ?
4.      Bagaimana melaksanakan penilaian  implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi. ?

C.  Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan pendidkan karakter di SMP Negeri 1 Biromaru Kabupaten Sigi. Sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1.        Untuk mengetahui dan memahami perencanaan  yang  implementatif  sehingga  dapat diterapkan dalam pendidikan karakter di SMP 1 Biromaru Kabupaten Sigi.
2.        Untuk mengatahui dan memahami  menjelaskan implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi.
3.        Untuk mengetahui,  memahami Faktor apa yang mempengaruhi implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi.
4.        Untuk mengetahui,  memahami  melaksanakan penilaian  implementasi pendidikan karakter di SMP Biromaru Kabupaten Sigi.

  
D.     Manfaat Penelitian
Rencana penelitian  ini diharapkan dapat memberikan manfaat  dalam  beberapa  hal sebagai berikut :
1.      Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap perencanaan implementasi pengelolaan pendidikan karakter  di sekolah dalam rangka pembinaan manusia Indonesia yang religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, bersahabat/komunikatif, cinta damai , gemar membaca, peduli sosial, peduli lingkungan.
2.      Secara praktis penelitian ini diharapkan mengetahui implementasi pengelolaan pendidikan karakter di SMP berkontribusi positif terhadap  kemampuan sekolah dan guru dalam hal pengelolaan pendidikan karakter dalam upaya menumbuh kembangkan kesadaran akan pentingnya nilai karakter  religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, bersahabat/komunikatif, cinta damai , gemar membaca, peduli sosial, pada peserta didik (siswa)
3.        Sebagai  temuan  konstruktif  mentetahui faktor yang mempe implementasi  pengelolaan pendidikan karakter; sejak dari perencanaan, pengkondisian, pengawasan dan penilaian pendidikan karakter dalam rangka membangun kepribadian siswa yang memiliki  kesadaran akan pentingnya  nilai hidup religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, bersahabat/komunikatif, cinta damai , gemar membaca, peduli sosial.

E.     Fokus Penelitian

Bertitik tolak dari  pandangan Moleong (2007:237) menyatakan tidak satupun penelitian yang dapat dilakukan tanpa adanya fokus, maka fokus penelitian  adalah peningkatan kompetensi Guru dalam sekolah dalam  pengelolaan pendidikan  karakter  yang efektif melalui kegiatan; perencanaan, pengkondisian, pengawasan dan penilaian untuk   menumbuh kembangkan nilai karakter  religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial  pada diri SMP 1 Biromaru, khususnya aspek pengelolaan, program, dan strategi implementasi yang dilakukan oleh pihak Kepala Sekolah  dan  Guru mata pelajaran pengetahuan sosial (mata pelajaran Pendidikan Agama, PKn dan muatan lokal);  bahasa (mata pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia); dan eksakta (mata pelajaran fisika dan matematika).


II.       KAJIAN TEORI
A.    Pengelolaan
Untuk menuju point education change (perubahan pendidikan), maka pengelolaan (manajemen) pendidikan harus diprioritaskan sehingga menghasilkan out-put yang diinginkan.  Pengelolaan (manajemen) dalam sebuah organisasi pada dasarnya suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan organisasi melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating, dan controlling dalam penggunaan sumberdaya organisasi.
Menurut David, (2004) Planning; merupakan proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Menurut Usman (2010:65-66) perencanaan ialah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Sebagai kegiatan yang akan dilakukan di masa akan datang, maka perencanaan mengandung unsur (1) sejumlah kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya (2) adanya proses, (3)hasil yang dicapai, dan (4) menyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Perencanaan amat penting untuk implementasi strategi dan evaluasi strategi yang berhasil, terutama karena aktivitas pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staff, dan pengendalian tergantung pada perencanaan yang baik.
Organizing (pengorganisasian) menurut Usman (2010:144-149); adalah suatu proses kerja sama dua orang atau kebih untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, oleh karena itu dalam pengorgnisasian terkandung tiga unsut; (1) kerja sama, (2) dua orang atau lebih, (3) tujuan yang hendak dicapai. Menurut David, (2004) Pengorganisasian berfungsi: membagi-bagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih sempit (spesialisasi pekerjaan), menggabungkan pekerjaan untuk membentuk departemen (departementalisasi), dan mendelegasikan wewenang.
Actuating; menurut Kadarman (1996) adalah seni atau proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka mau berusaha untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok, sehingga dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan, proses atau fungsi yang digunakan untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Controling  menurut Usman (2010:504) ialah kegiatan memantau, menilai, dan melaporkan apakah pelaksanaan pekerjaan/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana semula. Kegiatan mengawasi pada dasarnya  membandingkan kondisi yang ada dengan dengan yang sebelumnya terjadi. Menurut Sagala, (2007;67) controling dan pengawasan adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu kerja sama antara guru, kepala sekolah, konselor, supervisor, dan petugas sekolah lainnya dalam institusi sekolah.. Data itu dipakai untuk  mengidentifikasi apakah proses pencapaian tujuan melalui proses pembelajaran  berjalan dengan baik. Apakah ada penyimpangan pada kegiatan itu serta kelemahan yang yang didapatkan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Dalam konteks pendidikan pengelolaan berarti suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan pendidikan yang dicapai melalui proses planning(perencanaan), organizing(pengorganisasian), actuating(pengarahan), dan controlling (pengawasan/ pengendalian)  program-program pendidikan. Oleh karena itu dalam mewujudkan tujuan pendidikan dengan orientasi khusus seperti karakter, diperlukan implementasi pengelolaan (manajemen) strategis sehingga pencapaian tujuan diperoleh maksimal.
Pengelolaan (manajemen) strategis adalah suatu aktifitas untuk mensinkronisasi kemampuan internal oranisasi dengan peluang  dan ancaman eksternal guna merumuskan langkah stagis  dalam mencapai tujuan dan mempertahankan nilai-nilai organisasi, yang memungkinkan organisasi mampu beradaptasi dengan lingkungan yang menguntungkan.  Menurut Rowe (1989:12) manajemen strategis berpusat pada model empat faktor dan mengelolanya untuk mencapai tujuan stratejik. Fungsi manajemen strategik untuk menyelaraskan  operasi onternal organisasi, termasuk sumber daya  manusia, fisik, dan keuangan, untuk  mencapai interaksi optimal dengan lingkungan eksternal. Manajemen stragik didasarkan pada operasional organisasi, nilai-nilai keyakinan mendasar tentang bagaimana bisnis (usaha) harus dilakukan. Dalam proses manajemen strategis menggabungkan jenis nilai-nilai yang diidentifikasi. (Rowe, dkk. 1989:12).
B.     Pendidikan Karakter

Secara umum  pendidikan adalah usaha sadar  dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar  dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan  potensi dirinya untuk memiliki kekuatan  spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keakhlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat.
Secara harfiah karakter artinya kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus, pendorong dan penggerak, serta pembeda satu individu dengan lainnya. Menurut Koesoema (2007:52-218) pendidikan karakter merupakan struktur antropologis yang terarah pada proses pengembangan dalam diri manusia secara terus menerus untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia yang mempunyai keutamaan yakni dengan mengaktualisasikan nilai-nilai keutamaan seperti keuletan, tanggung jawab, kemurahan hati, dan semisalnya. Hal ini karena Koesoema menganggap bahwa jiwa manusia bisa dirubah dengan  pendidikan, dan ini bisa dilakukan di sekolah. Disekolah tersebut bisa diterapkan lima metode pendidikan karakter yakni; (1) mengajarkan pengetahuan tentang nilai, (2) memberikan keteladanan, (3) menentukan prioritas, (4) praksis prioritas dan (5) refleksi. Semua metode itu dilaksanakan dalam setiap momen disekolah, kemudian diaktualisasikan di lingkungan masyarakat supaya  mereka bisa mengotrolnya dan juga turut serta mempraktekkannya.
Menurut Raka (2011:t6) pendidikan karakter di Indonesia pada saat ini diperlukan semua orang, untuk 250 juta rakyat Indonesia. Oleh Azzet (2011:15), Pendidikan karakter di Indonesia saat ini adalah kebutuhan yang mendesak, sebab karakter adalah kekuatan yang membentengi diri kita dari segala macam godaan yang mendorong pada tingkah laku tidak terpuji John, (2011:vii). Karakter merupakan cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama,  baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara  Samani, (2011:41).
Dalam rangkaiannya dengan identitas atau jati diri suatu bangsa, karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia. Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar; kedamaian (peace), menghargai (respect), kerja sama (cooperation),  kebebasan (freedom), kebahagiaan (happiness),  kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasih sayang (love), tanggung jawab (responssibility), kesederhanaan (simplicity), toleransi (tolerance) dan persatuan (unity) Samani, (2011:42).
Karakter religius teraplikasi dalam wujud kehidupan berprilaku yang baik; penuh dengan kebajikan; yakni berprilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta) dan terhadap diri sendiri. Dalam dunia modern ini, manusia cenderung melupakan the virtuous life atau kehidupan yang penuh kebajikan, termasuk di dalamnya self-oriented virtuous atau kebajikan terhadap diri sendiri, seperti self control and moderation atau pengendalian diri dan kesabaran; dan other-oriented virtuous atau kebajikan terhadap orang lain, seperti generousity and compassion atau kesediaan berbagi dan merasakan kebaikan. Kemendiknas, (2010).
Karakter moral dalam menurut Dewantara (1962:484)  adalah  mendukung perkembangan hidup anak, lahir dan batin dari sifat kodratinya menuju kearah suatu peradaban. Disini jelas pendidikan moral essensinya adalah mengembangkan kecerdasan moral (building moral intelligence) atau mengembangkan kemampuan moral anak, sehingga mampu menentukan benar dan salah, baik dan buruk, yang wajar dan tidak wajar, yang pantas atau tidak pantas, serta yang patut atau tidak patut untuk dikerjakan seseorang.
Karakter kemandirian adalah suatu karakter yang menunjukan adanya rasa percaya diri dan bertanggungjawab dalam menentukan sikap; atau kemampu untuk mengambil keputusan dan menentukan tepat tidaknya tindakan yang diambilnya. Menurut Khan (2010:1) pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara, membantu mereka membuat keputusan dan yang dapat dipertanggungjawabkan. 
Karakter nasionalisme (kebangsaan) yaitu suatu bentuk kesadaran akan masyarakat dan bangsanya sendiri. Zubaedi, (2011:14) mengatakan Pendidikan karakter akan memastikan siswa merenungkan etika pribadi mereka dan bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang di sekitar mereka. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character develompment (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen sekolah baik dari aspek kurikulum (the content of the curriculum ), proses pembelajaran ( the procces of instruction ), kualitas  hubungan ( the quality of relationship ), penanganan mata pelajaran ( the handling of discipline ), pelaksanaan aktifitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.(Zubaedi, 2011:14)


  1. Pendidikan Karakter di Sekolah
Tilaar, (2007:15) menyatakan pendidikan kareakter di sekolah, merupakan proses penciptaan suasana  masyarakat yang hidup dengan pijakan kokoh nilai-nilai nasionalisme yang kuat, yang diperoleh melalui penanaman nilai entity dan identity dari kearifan lokal (lokal wisdom); memiliki kemampuan peradaban tinggi setara dengan  perkembangan dunia. Manusia-manusia berkualitas yang diharapkan bukan manusia yang lepas dari akar budayanya, melainkan manusia yang tetap berpijak dan memiliki mainstream identity sendiri sebagai wujud kesadaran ethinisitas untuk merekat kerenggangan atau konflik masyarakat dalam paradigma terbuka mengembangkan sikap menerima kehadiran dan hidup bersama kebudayaan lain sebagai suatu entity untuk berkembang meraih kemajuan peradaban.
Secara substantive  menurut Kemendiknas (2010:10) character terdiri atas 3 (tiga) yakni: 1). Operatives, 2). Values, 3).Values in action, atau tiga unjuk prilaku yang satu sama lain saling berkaitan, yakni moral; knowing, moral feeling, and moral behavior. Karakter kita maknai sebagai kualitas pribadi yang baik (bermoral/berbudi pekerti), yakni arti tahu tentang kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berprilaku baik, yang secara koheren memancar sebagai hasil dari olah pikir, olah hati, oleh raga, dan olah rasa dan karsa. Secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri  individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, atuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. 
Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan dalam diagram Venn dengan empat l

Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional dalam publikasinya berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011:2) menyatakan  bahwa pendidikan karakter  pada intinya bertujuan: membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semuanya dijwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. dinyatakan bahwa pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Dalam kaitan itu telah diidentifikasi sejumlah nilai pembentuk karakter yang merupakan  hasil kajian empirik Pusat Kurikulum yaitu : (1) Religius, (2) jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif,  (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/ komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab. Balitbangpuskurbuk, (2011:3)
Menurut Muslich, (2011:86) Pendidikan karakter di sekolah  dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran yang berkaitan dengan norma dan nilai-nilai pada setiap mata pelajaran yang dieksplisitkan melalui pengaitan antara mata pelajaran dengan nilai kehidupan sehari-hari dalam masyarakat sekitarnya, sehingga pembelajaran yang diisi dengan nilai-nilai karakter tidak  hanya pada tataran kognitif, tetapi pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.  Sedangkan menurut  Umi Kalsum (2011:6) pendidikan karakter sangat cocok diterapkan dalam pendidikan formal  (sekolah) karena tujuannya menanamkan karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran ataui kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Dalam konteks implementasi pendidikan karakter di sekolah, maka agar guru harus memiliki karakter terlebih dahulu. Menurut Hidayatullah, (2010:25); Guru berkarakter, bukan hanya mampu mengajar tetapi ia juga mampu mendidik. Ia bukan hanya mampu mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi ia juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidupnya. Ia (guru) bukan hanya memiliki kemampuan bersifat intelektual tetapi memiliki kemampuan spiritual sehingga mampu membuka hati peserta didik untuk belajar; yang selanjutnya adalah kemampuan interpersonal sehingga mampu hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

D.  Penelitian Terkait
1.    Muhammad Rais (2010) : Islam dan Kearifan Lokal; Dialektika Faham dan Praktik Keagamaan Komunitas Kokoda-Papua dalam Budaya Lokal: Budaya suatu masyarakat lokal sangat mempengaruhi karakter hidup masyarakat setempat, walaupun intevensi agama  diberikan secara maksimal, demikian pula tata aturan kemasyakatan yang dibuat negara.
2.    Wuri Wuryandani (2010) Integrasi Nilai-Nilai Kearifan lokal dalam Pembelajaran Untuk Menanamkan Nasionalisme Di Sekolah Dasar:
Salah satu cara yang dapat ditempuh guru di sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam pembelajaran diharapkan nasionalisme siswa akan tetap kukuh terjaga di tengah-tengah derasnya arus globalisasi.
3.    Djuherman (2007) Pendidikan Demokratis dalam Kurikulum KTSP: Pembelajaran KTSP merupakan perwujudan demikratisasi dalam bidang pendidikan, karena di sana ditanamkan  penghargaan,  menjunjung tinggi kreatifitas, dan menyenangkan peserta didik.
4.    Winarno (2006). Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan Standarisasi dan Pembelajarannya. Pendidikan kewarganegaraan paradigma baru memiliki misi membentuk"warga negarayang baik" nampaknya misi ini sama pula dengan pendidikan kewarganegaraan sebe1umnya. Jadi disesuaikan dengan tafsir penguasa negara. Sekarang ini misi pendidikan kewarganegaraan paradigma baru adalahmenciptakan kompetensi siswa agar mampu berperan aktif dan bertanggung jawab bagi kelangsungan pemerintahan demokratis melalui pendidikan kewarganegaraan. pengembangan pengetahuan, karakter dan ketrampilan kewarganegaraan.
5.    Anna Stephens: A Host Guiding Stars: Heroes Necessary Moral Education (2006):
With the breakdown of common cultural ideals and morals, concurrent with the loss of faith in public figures, and the general cynicism increasingly prevalent in society, heroes are ever more marginalized in American society. Although some Americans consciously recognize the need for heroes, particularly in the education of children, most do not even realize that heroes have disappeared from public discourse. Systemic issues will have to be dealt with in American society before heroes regain their effectiveness. The value and legitimacy of common cultural values must be embraced again, and the prevalent cynicism must somehow be countered. Educating children to admire heroes may help in this, but there must be consensus among educators on common values before that is possible. Further, the role of parents is important as they monitor and regulate the moral influences their children receive. There is probably no one formula that will be effective for everyone, but moral education in schools, homes, and the media is vital. As Edward DeRoche and Mary Williams point out in Educating Hearts and Minds, “Whether in print, on the stage, or on film, the hearts and minds of children and youth can be engaged by heroes…There are lessons to be learned, hearts to be moved, and imaginations to be stimulated.”

III.   METODE PENELITIAN

Metode penelitian akan memberikan petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau petunjuk bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat eksploratif; Sugiyono (2007:15), menyebutkan bahwa metode penelitian kualitatif ialah:
Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti obyek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Metode penelitian digunakan untuk mengkaji topik penelitian. Dengan kata lain  metodologi  merupakan proses, prinsip-prinsip yang digunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawaban. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Studi kasus dipilih karena penelitian dilakukan secara intensif, terperinci, mendalam terhadapsuatu kelompok, organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari lingkup wilayahnya. Arikunto (1998:115) mengemukakan bahwa:
Penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subyek yang sangat sempit, tetapi ditinaudari sifat penelitiannya, penelitian kasus lebih mendalam dan membircarakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah yang aktuial dengan mengumpulkan data, menyusun dan mengaplikasikannya serta menginterprertasikannya.

Lebih lanjut Mulyana (2002:201) mengatakan bahwa studi kasus merupakan uraian dan penjelasan komrehensif mengenai berbagai aspek dari seorang individu suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau situasi sosial. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subyek yang diteliti, dimana data diperoleh melalui  metode wawancara, pengamatan, penelaahan dokumen, hasil karya (suvei). Selain itu juga peneliti mempelajari semaksimal mungkin subjek penelitian dengaan tujuan untuk memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam mengenai sibyek yang diteliti.
            Penelitian kualitatif atau kajian kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena penelitian ini menekankan pada upaya investigasi untuk mengkaji secara natural (alamiah) fenomena yang tengah terjadi dalam mengetahui pengelolaan pendidikan karakter yang dilaksanakan guru mata pelajaran di SMP Negeri 1 Biromaru Kabupaten Sigi.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, karena penelitian ini bermaksud untuk memahami, mengungkap,  menjelaskan dengan rinci berbagai gambaran dan fenomena yang ada di lapangan kemudian dirangkum menjadi simpulan berdasarkan data penelitian yang dikumpulkan oleh peneliti. Penelitian ini juga berarti penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena atau karakteristik indivudual, situasi, atau kelompok tertentu secara akurat.  Dengan kata lain penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan  kondisi saat ini.  Penelitian studi kasus merupakan salah satu cara untuk menemukan makna baru, menjelaskan sebuah kondisi keberadaan senyata mungkin. Penelitian ini dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada aspek-aspek program, strategi ipmlementasi, dan hambatan pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

A.  Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut  Satori dan Aan (2010:22) menjelaskan “Penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berfikir induktif”  di mana melalui penelitian ini, peneliti dapat mengenali subyek, merasakan apa yang di  alami pengelola pendidikan / sekolah dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan pengelolaan pendidikan karakter yakni aspek pembinaan kompetensi Guru, perencanaan, pengkondisian, pengawasan dan penilaian pendidikan karakter, serta prosedur dan tahapan penyusunan kurikulum dan langkah teknis selanjutnya guna  menumbuh kembangkan  kesadaran akan pentingnya nilai karakter  religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, bersahabat/komunikatif, cinta damai , gemar membaca, peduli sosial, terhadap  siswa.

B.     Subjek dan Tempat Penelitian
Subjek penelitian adalah guru SMP 1 Biromaru dan pihak-pihak yang bersedia memberikan berbagai informasi berisi keterangan dan data penting yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Pada penelitian ini yang menjadi subjek utamanya penelitian adalah; guru pengetahuan sosial (Agama, PKn), guru ilmu eksata (matematika, fisika), guru pengetahuan bahasa (Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Biromaru Kabupaten Sigi yang berlokasi di jalan Karanjalemba No. 21 A Biromaru. Pemilihan tempat penelitian didasarkan pada kebutuhan data penelitian

C.  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian ini, karena tujuan utama sebuah penelitian adalah mengumpulkan data. Menurut Cathrine Marshall, Gretchen B. Rosman (Sugoyono, 2008), Menurut Miles dan Huberman (2007:16), bahwa dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting kondisi yang alamiah) sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta ( participation observation ), wawancara mendalam dan dokumentasi.  Setiap data atau informasi penting akan dilacak sampai tuntas sampai kebenaran data benar-benar sahih, oleh karena itu dalam pengumpulan data sangat dimungkinkan melibatkan banyak pihak di luar subyek yang ada di SMP Negeri 1 Biromaru.
1.      Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan terjadinya komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan subjek yang diwawancarai. Wawancara yang mendalam dengan informan dilakukan dalam bentuk tanya jawab dan diskusi. Dalam wawancara ini peneliti meminta informan memberikan informasi sesuai dengan yang dialami, diperbuat, dan dirasakan atau pernah diketahui mengarah  atau berkaitan dengan pendidikan karakter.
Menurut Moleong (2007:186) “Wawancara  merupakan  percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara ( interviewer )  yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara ( interviewee ) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”. Agar mempermudah peneliti dalam mendokumentasikan berbagai data dan informasi yang disampaikan dari informan, maka hasil wawancara di rekam dalam vioce recorder, camera digital dan atau handphone. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai guru terlebih dahulu dan dilanjutkan pada pihak terkait lain.
Wawancara yang akan dilakukan adalah wawancara yang bersifat terstruktur, dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan wawancara. Selanjutnya sebagai bentuk pendalaman informasi dilakukan wawancara bebas, namun isinya tetap berkaitan dengan pengelolaan pendidikan karakter di SMP Negeri 1 Biromaru.
Wawancara dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi saat wawancara dengan mempertimbangkan agama, usia, suku, bangsa, yang dipahami, tingkat pendidikan dan karakteristik sosial budaya dari informan.
2.      Observasi
Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam observasi partisipatif (partisipatory observation) pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Pengamat ikut bergabung menjadi guru di sekolah. Dalam observasi nonpartisipan (nonpartisipation observation) pengamat tidak ikut serta dalam megiatan mengajar di kelas, hanya berperan mengamati kegiatan semata tidak ikut dalam kegiatan. Menurut Nasution dalam Sugiyono (2008:310) bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai kenyataan yang diperoleh melalui observasi.
3.      Studi dokumentasi
Studi dokumentasi (docomentary study) adalah suatu teknik data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen baik tertulis yang sudah diterbitkan resmi Kementrian Pendidikan dan kebudayaan atau, dokumen gambar, maupun elektronik. Studi dokumen dalam penelitian ini bermaksud menelaah dokumen-dokumen yang telah ada. Pada penelitian inidokumen yang akan diteliti berupa; biografi, sejarah kehidupan (life history), catan guru bimbingan kounseling (BK), peraturan dn dokumen berupa gambar atau foto.  

D.  Teknik Analisis Data
Analisis data adalah mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori atau satuan uraian dasar. Patton dalam Moleong (1993:103). Menyatakan proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, baik data primer maupun data sekunder. Proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini mengacu kepada proses analisis data  yang disampaikan oleh Miles  Huberman (1962:16) yaitu : Setelah data dibaca, dipelajari, dan ditelaah, maka selanjutnya data direduksi, disajikan, dan ditarik kesimpulan serta veriikasinya.
1.    Redukasi data. Data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi direduksi, yaitu dengan menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu isi dati data, kemudian dilakukan pengkodean dengan menggunakan analisis konten, fdan diorganisasi sedemikian rupa dengan menggunakan analisis domain berdasarkan kategori-kategori yang ditentukan. Kemudian dilakukan analisis komparatif dengan melakukan crosschek  dengan sumber datalainnya. Dengan demikian, validitas data yang ada dapat dipertangungjawabkan.  
2.    Penyajian data. Berupa sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan.
3.    Penarikan simpulan dan verifikasi. Sejak awal pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola,  penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Setelah di dapat simpulan-simpulan sementara, kemudian menjadi lebih rinci dan menjadi kuat dengan adanya bukti-bukti dari data. Simpulan di verifikasi selama penelitian berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni sebagai validasi dari data itu sendiri.

E.     Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data.
Pemeriksaan keabsahan data digunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat kepercayaan atau kredibilitas dari data yang diperoleh. Dalam penelitian ini pemeriksaan keabsahan data menggunakan kriteria derajat kepercayaan (credibility). Moleong (2007:324) menjelaskan bahwa :
Penerapan kriterium derajat kepercayaan (kredibilitas) pada dasarnya menggantgikan konsep validitas internal dan nonkualitatif. Kriterium ini berfungsi pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai; kedua, mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

Pencapaian keabsahan data kriteria derajat kepercayaan atau kredibilitas dapat digunakan beberapa teknik pemeriksaan keabsahan yaitu : (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pengecekan teman sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota. Moleong (2007:327). Uuntuk mengefektifkan dan mengefisienkan pelaksanaan pemeriksaan keabsahan data, maka peneliti hanya menggunakan tiga dari tujuh cara ada yaitu : (1) ketekunan pengamatan, (2) triangulasi, (3) pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi.
1.         Ketekunan pengamatan; Teknik pemeriksaan keabsahan data melalui ketekunan pengamat dalam penelitian ini dilakukan pada saat peneliti melakukan observasi lapangan, menganalisis data, dan menafsirkan data-data yang diperoleh dari lapangan. Peneliti selalu berusaha untuk melakukan pengamatan setiliti dan setekun mungkin pada kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya. Berbagai informasi atau data yang ada, baik yang dianggap penting ataupun kurang penting selalu dianalisis secermat mungkin.
2.         Triangulasi. Moleong (2007:330) mengatakan bahwa :Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatuyang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data ini”. Triangulasi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi dengan sumber. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat  yang berbeda dalam penelitian kualitatif. (Patton dalam Moleong, 2010:330).
Moleong (2007:331) menjelaskan bahwa Triangulasi bahwa:
Triangulasi dengan sumber dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara ; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan orang disepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang-orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintah; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Pada penelitian ini triangulasi sumber hnaya membandingkan hasil wawancara dengan pengamatan, membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
3.         Pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan pihak yang dianggap mampu memberikan masukan terhadap penelitian ini yaitu:
a.       Diskusi dengan dosen yang ada di fakultas keguruan yang ada di Palu atau guru yang ada di SMP Negeri 1 Biromaru atau MGMP guru mata pelajaran yang memiliki kompetensi mengenai penelitian yang dilakukan.
b.      Diskusi dengan rekan mahasiswa PPs Ilmu Pendidikan sebagai salah satu bentuk pengujian keabsahan data yang diperoleh oleh peneliti.
Pada dasarnya triangulasi data dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 4
Bagan Teknik Triangulasi dengan Sumber


F.     Tahap-tahap Penelitian
1.        Tahap Pra lapangan
a.       Menyusun Rancangan Penelitian: Kegiatan ini merupakan tahap awal dari serangkaian proses penelitian. Intinya berupa penyusunan rancangan penelitian yang diajukan dalam bentuk proposal penelitian yang diajukan ke KPS PPS Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar. Kemudian proposal penelitian di seminarkan.
b.      Memilih Lapangan Penelitian: Proses pemilihan latar penelitian diawali dengan data yang temukan peneliti di SMP negeri 1 Biromaru Jl. Karanjalemba No.21 A Biromaru.
c.       Mengurus Perizinan: Pengurusan izin yang bersifat administratif, dilakukan mulai dari  PPs Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Makassar sampai Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi.
d.      Menyiapkan Peralatan Penelitian:  Pada tahap ini, peneliti menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk memperlancar, memperjelas dan mempermudah kegiatan pengumpulan data di lapangan . Adapun pada tahap ini adalah mempersiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari pedoman wawancara dan pedoman observasi.
2.        Tahap Pekerjaan Lapangan
a.       Memahami Latar Penelitian
1)      Pembatasan penelitian. Pemahaman latar penelitian menjadi sangat penting sehingga untukmengumpulkanj data menjadi lebih efektif. Adapun latar penelitian ini dibatasi pada lokasi dimana ksus berada, yaitu hanya di lokasi SMP Negeri 1 Biromaru
2)      Penampilan. Dalam melakukan penelitian,  peneliti juga sangat memperhatikan penampilan. Karena lokasi ini di sekolah, maka peneliti juga berusaha untuk tampil dengan sopan dan formal layaknya guru.
3)      Pengenalan hubungan peneliti di lapangan. Penelitian ini bersifat pengamatan langsung tanpa berperan serta, maka peneliti berusaha agar hubungan dengan lingkungan yang ada dilokasi penelitian tetap penuh keakraban, tanpa mengubah situasi yang terjadi pada latar penelitian dan perilaku alami yang ada dilokasi penelitian.
4)      Jumlah waktu studi. Peneliti mengalokasikan waktu penelitian di lapangan selama 190 hari kerja. Diharapkan dengan jumlah waktu yang sangat terbatas ijni berbagai data penelitian dapat terkumpul dengan baik.
b.      Memasuki Lapangan
1)      Keakraban hubungan. Keakraban hubungan peneliti dengan lihngkungan sosial dilingkungan sekolah selalu dijaga peneliti. Agar mempermudah peneliti dalam upaya memperoleh berbagai data yang diinginkan
2)      Mempelajari Bahasa. Karena tempat penelitian ini di lakukan di Biromaru, maka peneliti berusaha mempelajari bahasa Ledo, Da’a dan Ija, bahasa yang digunakan lingkungan subyek penelitian.
3)      Peranan Peneliti. Peran peneliti dalam aktifitas yang ada di lokasi penelitian tidak besar. Karena penelitian ini dilakukan dengan pengamatan lagsung tanpa berperan serta, sehingga peneliti menghindari peran serta langsung karena di khawatirkan hal tersebut akan mempengaruhi kondisi dan perilaku yang akan terjadi di lokasi penelitian.
c.       Berperan serta dan mengumpulkan data
1)      Pengarahan Batas Studi. Pengarahan batas studi dilakukan dengan memperhatikan batasan masalah pada fokus penelitian yang akan di teliti yaitu mengenai hal ikhwal guru mata pelajaran yang dijadikan obyek penelitian. Pengarahan batas studi menjadi penting agar peneoliti tidak terjebak pada masalah-masalah yang bera di luar fokus masalah penelitian.
2)      Mencatat data. Mencatat data yang ada di lokasi penelitian, dilakukan peneliti pada saat dan sesudah berlangsungnya pengumpulan data, baik pada saat wawancara maupun pada saat dan sesudah kegiatan observasi berlangsung.
3.    Analisis Data
Bogdan dan Biklen, 1982 (dalam Moleong, 2007:248) menyatakan bahwa:
       Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya, menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari data dan menemuka pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

            Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, baik dta primer maupun data sekunder. Proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini mengacu pada proses analisis data yang disampaikan oleh Miles dan Huberman, 1962 yaitu “setelah data dibaca, dipelajari, dan ditelaah, maka selanjunya data direduksi, disajikan, dan ditarik  kesimpulan serta verifikasinya.
  1. Reduksi Data (Data Reduction)
Sugiyono (2008:338) menyatakan bahwa “mereduksi data berarti  merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal  yang penting dicari tema dan polauya dan membuang yang tidak perlu:
  1. Panyajian  Data (Data Display)
Setelah data direduksi ; maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data ini bertujuan agat data terorganisir, tersusun dalam pola  yang berhubungan, sehingga, akan lebih mudah untuk dipahami. Penyajian data dalam penelitian ini dengan tekd yang bersifat naratif dan tabel.
  1. Menarik kesimpulan dan verifikasi.
Sejak awal pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan,  konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proporsi.
            Tahapan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5
Rancangan Tahap-Tahap Penelitian

            Secara keseluruhan bagaimana proses penelitian ini dilakukan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar  6.
Gambar Prosedur keseluruhan Kegiatan Penelitian


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,  1998. Prosedur penelitian. Jakarta: PT. Rieneka Cipta.
Azzet,2011. Urgensi Pendidikan Karakter Di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa. Jakarta: Arruz Media
Balitbangpuskurbuk, 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter: Berdasarkan Pengalaman Di Satuan Pendidikan Rintisan.  Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
David, 2004. Konsep Manajemen Strategis, Edisi VII (terjemahan). Jakarta, PT Indeks.
Dewantara, 1962.  Karja Ki. Hadjar Dewatara Bagian Pertama: Pendidikan. Jogjakarta: Pertjetakan Taman Siswa.
Djuherman, 2007 Pendidikan Demokratis dalam Kurikulum KTSP. Bandung: Perpustakaan Digital UPI
Hidayatullah, 2010. Pendidikan Karakter : Membangun Peradaban bangsa. Surakarta: Yuma Pressindo.
Hosni L (t.thn) Buku Ajar Orientasi Mobilitas. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
John, 2010. Membangun Karakter Tangguh: Mempersiapkan Generasi Anti Kecurangan. Surabaya: Portico Publishing
Kadarman, 1996. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta, Gramedia
Kementrian Pendidikan Nasional, 2010. Desain Induk Pengembamngan Karakter, Jakarta: Dikti
Khan, 2010, Pendidikan Karakter  Potensi Diri Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Yokyakarta: Pelangi Publishing
Koesoema. 2011. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman global.  Jakarta: Kompas Gramedia
Miles,2005. Analisis Data Kualitatif. Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Terjemahan: Tjetjep Rohendi. Jakarta UI-Press. 1992
Mulyana, 2002. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: PT. Rosdakarya
Muslich, 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Moleong, 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. Ketujuh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Rais, 2010 : Islam dan Kearifan Lokal; Dialektika Faham dan Praktik Keagamaan Komunitas Kokoda-Papua dalam Budaya Lokal. Banjarmasin: ACIS
Raka, dkk. 2011. Pendidikan Karakter Di Sekolah: Dari gagasan Ke Tindakan. Jakarta: PT. Alex Media Komputindo. Kompas Gramedia
Rahardja, D. 2010. Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rowe, Mason, Dickel, Snyder, 1989. Strategic Management: A Methological Approach. New York: Addison-Wesley Publishing Company.
Sagala, 2007. Manajemen Stratejik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Pembuka Ruang Kreativitas, Inovasi dan Pemberdayaan Sekolah dalam Sistem Otonomi Sekolah. Bandung: Alfabeta.
Samani – Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.
Satori -  Aan. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Cet. 4. Bandung: CV. Alfabeta
Tilaar, 2007, Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rieneka Cipta
Tjiptono dan Gregorius. 2005. Service, Quality & Satisfaction.Yogyakarta: ANDI.
Umi, Kalsum 2011. Implementasi Pendidikan Karakter  Paikem. Jakarta: Gema Pratama Pustaka
Usman, 2010. Manajemen: Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Cetakan Kedua. Jakarta: Bumi Aksara.
Wuryandani, 2010: Integrasi Nilai-Nilai Kearifan lokal dalam Pembelajaran Untuk Menanamkan Nasionalisme Di Sekolah Dasar’ Bandung: Perpustakaan Digital UPI
Winarno, 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan Stndarisasi dan Pembelajarannya. Bandung:  Perpustakaan Digital UPI
Zubaedi, 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar